Bentuk Akhlak Sejak Dini: Metode Sorogan Lintas Generasi di Mushola Kedung Santen
Oleh KUA SUMPIUH
Sumpiuh - Senja baru saja rebah di Selandaka, namun suasana di Mushola Kedung Santen justru mulai menghangat. Sesaat setelah salam terakhir sholat Maghrib berjamaah ditunaikan, suara jernih anak-anak Majelis Taklim (MT) An-Najah serempak melantunkan bait-bait indah Asmaul Husna. Ini adalah ritual pembuka yang syahdu sebelum mereka memulai petualangan mengaji malam itu. Senin (29/06)
Di sudut mushola, Laeli Najihah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Sumpiuh, telah bersiap dengan kesabaran penuh. Malam itu, ia menerapkan metode klasik yang tetap ampuh lintas zaman: sistem sorogan. Satu per satu santri cilik maju membawa kitabnya. Dengan telaten, Laeli menyimak bacaan mereka, memilah bimbingan secara personal sesuai tingkatan—mulai dari yang masih mengeja lembar-lembar jilid Iqro’ hingga yang sudah fasih mengalir di lembaran Al-Qur'an.
Bukan sekadar membaca, di sela-sela setoran ayat tersebut, Laeli langsung menyisipkan bimbingan tajwid praktis. Ketika seorang anak keliru membaca panjang-pendek atau mendengung, saat itu juga perbaikan diberikan langsung sesuai ayat yang sedang dibaca. Pendekatan privat ini membuat anak-anak tidak hanya sekadar khatam, tetapi juga benar-benar memahami hukum bacaan secara aplikatif sejak dini.
