HUT RI #81

Bimbingan Dan Penyuluhan Di TPQ Nurul Huda : Teladani Nabi Yusuf AS

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di tengah dunia yang semakin ramai dengan perlombaan mengejar kesenangan, pujian, dan kemewahan, anak-anak perlu dibekali bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga keteguhan iman dan kemuliaan akhlak. Sebab, kecerdasan dapat mengantarkan seseorang meraih cita-cita, tetapi akhlak mulialah yang membimbingnya agar tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. Senin (05/10)

Pesan penuh makna tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama kepada para santri TPQ Nurul Huda. Dengan mengangkat materi “Meneladani Nabi Yusuf AS”, kegiatan ini mengajak para santri mengenal lebih dekat perjalanan hidup seorang nabi yang dikenal karena ketampanan, kesabaran, kesucian diri, dan keteguhannya dalam menjaga keimanan di tengah berbagai ujian kehidupan.

Melalui kisah Nabi Yusuf AS, Muhammad Taubah mengajak para santri memahami bahwa menjadi pribadi yang mulia bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, kemuliaan seseorang sering kali terlihat dari bagaimana ia bersikap ketika menghadapi kesulitan, bagaimana ia menjaga dirinya ketika berhadapan dengan godaan, serta bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika memiliki kekuasaan.

Kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan bahwa ujian dapat datang dari arah yang tidak pernah dibayangkan. Ketika masih kecil, beliau menghadapi kecemburuan saudara-saudaranya hingga dibuang ke dalam sumur. Setelah itu, beliau dibawa ke Mesir dan mengalami berbagai keadaan yang jauh dari kehidupan bersama keluarganya.

Namun, penderitaan tidak membuat Nabi Yusuf kehilangan kepercayaan kepada Allah SWT. Beliau tetap menjalani kehidupan dengan kesabaran dan menjaga keyakinan bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang dialami hamba-Nya.

Dari kisah tersebut, para santri diajak belajar bahwa ketika diejek teman, mengalami kegagalan, atau menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, mereka tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Mereka perlu belajar bersabar, menyampaikan perasaan dengan baik, dan meminta pertolongan kepada orang tua atau guru apabila menghadapi persoalan.

Sebab, keberanian sejati bukanlah kemampuan menyakiti orang lain, melainkan kesanggupan mengendalikan diri ketika amarah menguasai hati.

Keteladanan Nabi Yusuf AS semakin nyata ketika beliau menghadapi godaan saat berada di rumah Al-Aziz. Meskipun berada dalam situasi yang sulit, beliau tetap memilih menjaga kehormatan dan menaati Allah SWT.

Allah mengabadikan keteguhan tersebut dalam Surah Yusuf ayat 23, ketika Nabi Yusuf menolak ajakan kepada perbuatan yang dilarang dan berlindung kepada Allah.

Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Para santri perlu memahami bahwa menjaga diri merupakan bentuk keberanian dan kemuliaan. Mereka harus belajar membedakan perbuatan yang baik dan buruk, menjaga pergaulan, menghormati tubuh dan kehormatan diri, serta berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, nasihat tersebut juga relevan untuk kehidupan sehari-hari. Anak-anak perlu dibimbing agar bijak menggunakan gawai, tidak mudah mengikuti ajakan yang merugikan, serta tidak malu meminta bantuan orang dewasa yang tepercaya ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman atau merasa terancam.

Ketika mendapatkan kepercayaan untuk mengelola perbendaharaan negeri Mesir, Nabi Yusuf AS menunjukkan kemampuan, integritas, dan tanggung jawab. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pribadi yang saleh, tetapi juga memiliki kecakapan dalam menjalankan amanah.

Keteladanan ini mengingatkan para santri bahwa ilmu harus berjalan bersama kejujuran. Menjadi anak yang baik bukan sekadar rajin mengaji, tetapi juga berkata benar, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, tidak menyontek, mengakui kesalahan, serta menjaga kepercayaan orang tua dan guru.

Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar kelak tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu bagian paling menyentuh dalam kisah Nabi Yusuf AS adalah ketika beliau kembali bertemu dengan saudara-saudaranya yang dahulu menyakitinya. Setelah melewati berbagai ujian dan memperoleh kedudukan yang tinggi, Nabi Yusuf tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk membalas dendam. Beliau memilih memaafkan dan tidak mempermalukan saudara-saudaranya. Sikap tersebut memberikan pelajaran bahwa hati yang mulia tidak diukur dari seberapa kuat seseorang membalas perlakuan buruk, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri dan membuka pintu perdamaian ketika memungkinkan.

Bagi para santri TPQ Nurul Huda, keteladanan ini dapat dimulai dari hal sederhana: tidak menyimpan dendam kepada teman, bersedia meminta maaf ketika bersalah, memaafkan dengan tulus, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan.

Betapa indahnya apabila tempat belajar dipenuhi anak-anak yang saling menyayangi, saling membantu, dan merasa bahagia ketika temannya berhasil. Sebab, keberhasilan seseorang tidak seharusnya menjadi alasan bagi orang lain untuk iri, tetapi menjadi inspirasi untuk ikut berusaha menjadi lebih baik.

Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini, Muhammad Taubah mengajak para santri menjadikan kisah Nabi Yusuf AS bukan sekadar cerita yang didengar, dihafal, lalu dilupakan, melainkan teladan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan utamanya sederhana, tetapi mendalam: tetaplah jujur meskipun berbohong terasa lebih mudah, tetaplah menjaga diri meskipun godaan datang, tetaplah sabar meskipun keadaan tidak menyenangkan, dan tetaplah memaafkan tanpa harus membenarkan perbuatan yang salah.

Pendidikan agama sejak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus. Ketika nilai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang ditanamkan secara konsisten, anak-anak memiliki bekal untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Muhammad Taubah berharap, melalui bimbingan tersebut, para santri TPQ Nurul Huda semakin mencintai kisah para nabi, rajin mempelajari Al-Qur’an, menghormati orang tua dan guru, serta tumbuh menjadi generasi yang beriman dan berakhlak mulia.

Pada akhirnya, kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu memberikan jalan yang mudah. Ada perpisahan yang menyedihkan, ketidakadilan yang menyakitkan, dan penantian panjang yang menguji kesabaran. Namun, manusia tidak boleh kehilangan harapan dan meninggalkan nilai-nilai kebaikan hanya karena keadaan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Boleh jadi seorang anak hari ini menangis karena diejek, kecewa karena gagal, atau bersedih karena merasa tidak dipahami. Namun, dengan iman, pendidikan, dan kasih sayang yang tepat, luka itu dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.

Semoga para santri TPQ Nurul Huda tumbuh menjadi generasi yang memiliki kejernihan hati seperti Nabi Yusuf AS, keteguhan iman dalam menghadapi godaan, kesabaran ketika diuji, kecakapan dalam memegang amanah, serta kelapangan jiwa untuk memaafkan. Sebab, warisan terbaik bagi anak-anak bukanlah sekadar harta yang kelak habis, melainkan iman yang menjaga langkah, ilmu yang menerangi pikiran, dan akhlak mulia yang membuat kehadiran mereka membawa kebaikan bagi sesama.

Semoga Allah SWT menjadikan mereka generasi Qur’ani yang mencintai kebenaran, menjaga kehormatan diri, menghormati orang tua dan guru, serta tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.