Bimwin Klasikal KUA Wangon: Cinta Yang Bertaut di Dunia, Sudah Bergaung di Alam Ruh
Oleh HUMAS
Wangon — Balai Nikah Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon menjadi saksi pelaksanaan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Klasikal yang penuh makna. Bertajuk “Cinta Yang Bertaut di Dunia, Sudah Bergaung di Alam Ruh”, kegiatan ini diisi oleh Muhammad Zainur Rakhman, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Wangon. Kamis (25/06)
Kegiatan tersebut diikuti oleh tiga pasang calon pengantin (catin) yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan. Dengan pendekatan psikologi sufistik, bimwin kali ini mengajak para catin untuk memahami pernikahan tidak hanya dari sisi hukum dan sosial, melainkan juga dari dimensi ruhani yang lebih dalam.
Muhammad Zainur Rakhman menyampaikan beberapa materi utama, antara lain:
- Hakekat Cinta dari Alam Ruh, yang menegaskan bahwa ikatan cinta sejati pasangan suami-istri telah terjalin jauh sebelum mereka bertemu di dunia.
- Pernikahan adalah Perjanjian Agung, sebuah ikrar suci di hadapan Allah SWT yang membawa tanggung jawab besar.
- Pengertian Sakinah, Mawaddah, Warahmah, sebagai pondasi utama rumah tangga yang harmonis.
- Cara Mengelola Emosi dan Konflik, agar pasangan mampu menghadapi ujian rumah tangga dengan dewasa dan bijaksana.
- Pengelolaan Anggaran Rumah Tangga, sebagai keterampilan praktis untuk menjaga kestabilan keluarga.
“Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua insan di dunia, tetapi pertemuan dua ruh yang telah saling mengenal sejak alam arwah. Oleh karena itu, persiapan pernikahan harus menyentuh dimensi lahir dan batin,” ujar Zainur Rakhman dalam sesi bimbingan.
Para calon pengantin terlihat antusias mengikuti materi yang disampaikan. Diskusi interaktif pun berlangsung hidup, terutama saat membahas pengelolaan emosi dan konflik serta perencanaan keuangan keluarga.
Kepala KUA Wangon berharap Bimwin Klasikal seperti ini dapat terus rutin dilaksanakan guna mempersiapkan generasi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, sekaligus mengurangi potensi perceraian di masa mendatang.
Dengan semangat tersebut, ketiga pasang calon pengantin meninggalkan balai nikah dengan bekal ilmu dan motivasi spiritual yang lebih kuat untuk membangun mahligai rumah tangga yang penuh berkah.
