HUT RI #81

Jelang Hari Kesaktian Pancasila, PRNU Klahang Gelar Bincang Sejarah Bersama Generasi Muda

Oleh KUA Sokaraja
SHARE

Klahang, Sokaraja — Ada malam-malam tertentu yang terasa berbeda. Bukan karena gemerlap acaranya, tetapi karena orang-orang yang hadir dipertemukan oleh satu kegelisahan dan satu tujuan: belajar dari sejarah untuk menata masa depan. ( Kamis, 01/10)

Suasana itulah yang terasa dalam Bincang Sejarah Desa Klahang, Rabu malam, 30 September 2026. Menjelang 1 Oktober, para pengurus harian PRNU Desa Klahang bersama generasi muda dan sejumlah tokoh masyarakat berkumpul dalam suasana sederhana, guyub, dan penuh dialog.

Hadir sebagai narasumber Gus Irchamni, yang akrab disapa Gus Irchamni, serta Penyuluh Agama Islam Satker KUA Sokaraja, Muhamad Nuh. Keduanya terlibat dalam dialog interaktif yang mengajak peserta melihat kembali rangkaian sejarah di penghujung September hingga awal Oktober 1965 serta bagaimana peristiwa tersebut dikenang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Tanggal 1 Oktober secara resmi diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada 2026, pemerintah kembali menjadwalkan peringatan tersebut pada 1 Oktober di Monumen Pancasila Sakti.

Sejarah Bukan Sekadar Cerita Masa Lalu

Dialog malam itu tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan mengingat tanggal dan nama dalam buku sejarah. Sejarah dibawa lebih dekat kepada kehidupan masyarakat: apa yang dapat dipelajari generasi sekarang dari perjalanan bangsa?

Bagi anak muda, pertanyaan itu menjadi penting. Sebab masa depan tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman generasi sebelumnya, dari keberanian mengambil pelajaran, dan dari kemampuan menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Dalam suasana lesehan yang akrab, para pengurus harian PRNU Desa Klahang tampak sengkuyung dan gayeng mengikuti jalannya pembahasan. Perbedaan usia dan latar belakang tidak menjadi sekat. Semua berada dalam satu ruang untuk mendengarkan, bertanya, dan bertukar pandangan.

Di situlah nilai sebuah forum sederhana menjadi terasa: sejarah tidak hanya untuk dihafalkan, tetapi untuk direnungkan.

Ketika Orang-Orang dengan Visi yang Sama Dipertemukan

Malam itu seolah menjadi titik temu bagi mereka yang memiliki perhatian terhadap agama, kebangsaan, kaderisasi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Bagi Muhamad Nuh, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran generasi muda. Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan. Mereka perlu diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, berorganisasi, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan makna peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk kembali merefleksikan perjalanan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai nilai yang dihidupkan dalam kehidupan bersama.

Karena itu, forum seperti Bincang Sejarah memiliki pesan sederhana: kalau ingin membangun masa depan, jangan putus hubungan dengan sejarah.

Dari Klahang untuk Generasi Berikutnya

Kegiatan di Desa Klahang ini juga menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Kadang cukup dengan sebuah ruang, beberapa orang yang peduli, secangkir minuman, dan kemauan untuk duduk bersama membicarakan masa depan.

Dari ruang sederhana itulah gagasan dapat tumbuh. Dari dialog dapat lahir kesadaran. Dari kesadaran lahir gerakan. Dan dari gerakan yang dirawat bersama, sebuah desa dapat memiliki generasi muda yang lebih percaya diri untuk mengambil peran.

Bincang Sejarah Desa Klahang akhirnya bukan hanya tentang masa lalu.

Ia adalah percakapan tentang hari ini dan tentang siapa yang akan menjaga hari esok.

Sebab sejarah telah memberikan pelajaran. Tugas generasi sekarang adalah memastikan pelajaran itu tidak berhenti menjadi cerita, tetapi berubah menjadi sikap, karya, dan pengabdian.

Dari Klahang, malam itu sejarah kembali berbicara. Dan kali ini, generasi mudalah yang diajak untuk mendengarkannya.