Jimat MAN 2 Banyumas : Kisah Nyata Ahli Maksiat yang Masuk Surga

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto – “Tadzkiroh hari ini saya akan menceritakan kisah nyata yang disampaikan ustadz Kholid Basalamah dalam tausiyahnya dan nanti dipadukan dengan ayat Al-Qur’an”, ujar Kepala MAN 2 Banyumas, Muhamad Siswanto, mengawali kegiatan Ngaji Jumat atau yang dikenal dengan Jimat MAN 2 Banyumas, yang diikuti oleh seluruh guru dan karyawan. Jum’at (12/12)

Ustadz Kholid Basalamah menyampaikan bahwa seorang ulama atau dai dari Maroko mimpi bertemu Rosulullah selama tiga hari berturut. Dalam miimpinya, Rosul menyampaikan ada Fulan bin Fulan di Mekah itu masuk surga. Karena mimpinya berturut-turut tersebut, akhirnya sang Dai umroh ke Mekah lalu menemui ulama disana untuk mencari Fulan bin Fulan dalam mimpinya. Namun, para ulama di Mekah tidak mengetahuinya. Maka ditelusuri kembali oleh sang Dai kemudian bertemu dengan ketua kampung. Si ketua kampung ini kaget karena si Fulan ini ahli maksiat. 

Setelah bertemu dengan Fulan, Sang Dai berkata kepada Fulan bahwa dia bermimpi bahwa Rosul menyampaikan bahwa dia masuk surga, Amalan apa yang membuat kamu masuk surga?  tanya Dai. Si Fulan pun kaget, ia menyampaikan bahwa saya ini ahli maksiat. Sang Dai terus mendesak untuk mengingat-ingat. Akhirnya dia pun ingat bahwa dia punya tetangga yang telah ditinggal wafat suaminya dan memiliki anak-anak. dIa pun lalu memberikan sebagian dari penghasilannya untuk membantu tetangganya tanpa sepengetahuan siapapun kecuali dia dan Alloh SWT. 

Sang Dai kemudian bertasbih dan menyampaikan kepada Fulan, itulah amalan yang menyebabkanmu masuk surga. Keikhlasanmu membantu tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan apapun itulah yang menyebabkanmu masuk surga. Si Fulan kemudian bertaubat lalu datang ke baitulloh bersama Sang Dai. Ketika si Fulan shalat dan bersujud, si Fulan meninggal dunia. Subhanalloh. 

Siswanto menjelaskan bahwa ikhlas adalah niat tulus karena Alloh. Dalam Al Qur'an, ikhlas disebut 31 kali. “Bahkan ada surat Al Ikhlas karena saking pentingnya ikhlas”, terangnya. Syaikh Nawawi Al Bantani, lanjut Siswanto menyampaikan ada tiga tingkatan keikhlasan. Pertama, Ikhlasul awam, yaitu ikhlasnya orang awam, ikhlasnya masih pamrih,.ingin dialem masih ingin mendapatkan kenikmatan dunia. Yang kedua Ikhlasul khowas, yaitu semata mata karena Allah SWT supaya masuk surga.dan terhindar dari neraka  Dan tingkatan tertinggi Ikhlas adalah khowasul khowas, dia sendiri bahkan tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu ikhlas seperti si Fulan dalam kisah nyata diatas. Karena ikhlas itu anugerah Allah SWT. 

Dalam pandangan tasawuf ada dua maqom ikhlas yaitu Mukhlis dan Mukhlas. Mukhlis itu orang beribadah semata mata karena Alloh, sedangkan mukhlas itu lebih tinggi atau sama dengan ikhlas khowasul khowas. Iklhas dalam perspektif kita sebagai ASN, Menteri Agama Nazarudin Umar mengharapkan kita mencapai derajat Mukhlas. Kerjanya bukan karena siapa siapa. Bukan untuk mendapatkan apa apa. Bukan rajin karena ada atasan saja. Namun benar benar bekerja untuk melayani umat, melayani siswa untuk menggapai prestasi dan cita-cita. “Maka, yang paling penting adalah menjaga keikhlasan dalam melaksanakan tugas kita sesuai tugas pokok fungsinya masing masing”, pungkas Siswanto. (akw)