Kakan Kemenag Banyumas Dorong Kepala Madrasah Baru Raih Level Great Leader
Oleh HUMAS
Purwokerto – Acara serah terima jabatan Kepala MTsN 1 Banyumas dari Sudir kepada Ali Nurdin diwarnai ‘tamparan’ keras mengenai pentingnya kepemimpinan sejati. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, memperingatkan bahwa tanpa pemimpin yang efektif, sebuah organisasi hanya akan diisi oleh hal-hal negatif secara alami.
Mengutip pakar manajemen Peter Drucker, Ibnu menegaskan, "'According to management expert Peter Drucker, only three things happen naturally in organizations: friction, confusion, and underperformance. The quote emphasizes that everything else, such as productivity, innovation, and a positive culture, requires deliberate leadership to achieve' yang artinya hanya tiga hal yang terjadi secara alami dalam organisasi, yakni gesekan, kebingungan, dan kinerja yang buruk." ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa segala hal yang positif—seperti produktivitas, inovasi, dan budaya kerja—itu tidak terjadi dengan sendirinya. Hal-hal baik tersebut harus diciptakan secara sengaja melalui kepemimpinan yang efektif. Gesekan (Friction) yakni konflik antar individu, proses yang tidak efisien, dan kurangnya kerja sama. Kebingungan (Confusion) adalah komunikasi yang buram, tujuan yang tidak jelas, dan ketidakpastian peran. Kinerja Buruk (Underperformance) merupakan hasil dari gesekan dan kebingungan, di mana produktivitas dan kualitas kerja merosot.
Ini penting dimiliki seorang pemimpin masa depan, karena sesungguhnya pemimpin itu lahir karena ada pemimpin yang dilahirkan, pemimpin yang dicipta dan pemimpin yang dipaksa. Pemimpin yang dilahirkan adalah seseorang yang sejak lahir sudah memiliki charisma wibawa dan kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan orang lain, bagi dia jabatan tidak penting, tapi disemua kondisi dan lokasi dia akan tampil menjadi seseorang yang memiliki jiwa dan tindakan pemimpin. Sementara, pemimpin yang dicipta adalah ketika sesorang memiliki jiwa kepemimpinan karena dimentori seseorang, mengikuti pendidikan dan pelatihan. Sedangkan pemimpin yang dipaksa, biasanya lahir karena konektivitas dan ikatan kesukuan dan kekeluargaan. Dari 3 hal di atas tentu akan berdampak pada sepak terjang dalam kepemimpinanya.
Untuk ASN Kemenag Banyumas, Ibnu mengajak mereka untuk menghadirkan jiwa kepemimpinan yang menginspirasi. Ia membagi tingkatan kepemimpinan menjadi empat level, yakni:
1. Medium Leader: Pemimpin yang sedang-sedang saja. Tipe ini cenderung banyak ngomong, mengomel, dan menekan (To Just Tell). Tipe ini diramal akan terlindas oleh perubahan teknologi.
2. Good Leader: Pemimpin yang baik. Ia menjadi pusat narasumber, banyak menjelaskan secara sistematis (To Explain). Tipe ini mampu mengalahkan teknologi karena fokus pada penjelasan detail kepada timnya.
3. Excellent Leader: Pemimpin yang mampu mendemonstrasikan, memberi contoh, dan mengakselerasi implementasi kebijakan (To Demonstrate).
4. Great Leader: Pemimpin di level tertinggi. Kehadirannya, meski sebentar, mampu menggerakkan massa, memunculkan imajinasi, dan inspirasi baru setelah pasukannya bertemu dengannya.
“Jangan puas hanya menjadi penikmat (CAMPERS), apalagi hanya menjadi penonton yang menyerah (QUITERS), tapi jadilah pejuang (FIGHTER) yang mendaki ke puncak prestasi (CLIMBERS),” tutup Ibnu, memotivasi seluruh jajarannya untuk menjadi Great Leader.
