Keberkahan yang Tak Kenal Kata Akhir

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Ada harta yang habis bersama waktu, namun ada pula yang terus mengalirkan manfaat bahkan ketika pemiliknya telah tiada. Dalam semangat menjaga keberlangsungan amal jariyah yang tak pernah putus, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, Rais Rudiansyah, menerima konsultasi wakaf dari warga Kecamatan Jatilawang yang datang dengan niat mulia untuk menyerahkan sebagian hartanya demi kemaslahatan umat. Rabu (17/06)

Bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, konsultasi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Dengan penuh kesabaran dan ketelitian, Rais Rudiansyah memberikan penjelasan mengenai tata cara, ketentuan, serta aspek administratif yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan wakaf agar dapat berjalan sesuai syariat dan ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, wakaf bukan sekadar penyerahan harta benda, melainkan bentuk pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta yang manfaatnya diharapkan dapat terus dirasakan oleh generasi demi generasi.

“Wakaf adalah warisan kebaikan yang nilainya tidak diukur oleh besarnya harta, melainkan oleh ketulusan niat dan manfaat yang akan terus hidup untuk masyarakat,” ungkap Rais Rudiansyah saat memberikan penjelasan kepada warga.

Bagi masyarakat yang datang berkonsultasi, penjelasan tersebut menghadirkan ketenangan dan kepastian. Sebab, di balik keinginan untuk berwakaf, tersimpan harapan agar sebagian rezeki yang telah diperoleh selama hidup dapat menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal.

Di tengah kehidupan yang serba sementara, masih ada hati-hati yang memilih menanam pohon kebaikan untuk dipetik buahnya oleh orang-orang yang bahkan belum mereka kenal. Ada yang mewakafkan tanah untuk tempat ibadah, ada yang berharap lahir generasi cerdas dari lembaga pendidikan yang dibangun di atas tanah wakaf, dan ada pula yang sekadar ingin meninggalkan jejak kebaikan yang tak terhapus oleh waktu.

Kehadiran Rais Rudiansyah sebagai Penyuluh Agama menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang tidak hanya menjawab persoalan administratif, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam mewujudkan cita-cita luhur yang bernilai ibadah.

Dari ruang konsultasi yang sederhana di KUA Jatilawang, tersirat pelajaran yang begitu dalam bahwa kehidupan manusia sesungguhnya tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang berhasil ditinggalkan.

Karena pada akhirnya, rumah yang megah akan lapuk dimakan usia, harta yang melimpah akan berpindah tangan, dan jabatan akan berakhir pada masanya. Namun, kebaikan yang ditanam dengan keikhlasan akan terus hidup, mengalir seperti mata air yang tak pernah kering, menghidupi banyak jiwa, bahkan ketika nama pemiliknya telah lama bersemayam dalam doa-doa anak cucunya.

Dan di antara lembar-lembar kehidupan yang akan ditutup oleh waktu, wakaf adalah salah satu cara manusia menitipkan cinta kepada masa depan—agar dari kebaikan yang sederhana, lahir keberkahan yang tak pernah mengenal kata akhir.