Lantunan Shalawat Menggema Keselarasan Budaya dan Cinta Rasul

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Senja yang teduh menyelimuti Komplek Desa Adat Banokeling, Desa Pekuncen, ketika lantunan shalawat mengalun lembut menembus ruang dan waktu. Di tengah peresmian Yayasan Paseban Banokeling yang berlangsung khidmat, penampilan Grup Hadroh Rubiyah Desa Pekuncen menghadirkan suasana yang bukan hanya meriah, tetapi juga menggetarkan hati setiap insan yang hadir. Kamis (25/06)

Di antara para tamu undangan yang menyaksikan momen penuh makna tersebut tampak Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat dalam satu bingkai yang harmonis.

Tabuhan rebana yang berpadu dengan lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggema di seluruh area kegiatan. Setiap irama seakan membawa pesan kedamaian, mengingatkan hadirin akan pentingnya menjaga akhlak, persaudaraan, dan kecintaan kepada Rasulullah di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah.

Penampilan Grup Hadroh Rubiyah tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian acara peresmian. Lebih dari itu, kelompok hadroh tersebut menghadirkan ruang spiritual yang menghubungkan hati manusia dengan nilai-nilai luhur agama. Para hadirin larut dalam suasana yang syahdu, sementara wajah-wajah yang semula penuh kesibukan perlahan berubah menjadi teduh dan penuh penghayatan.

Muhammad Taubah menyampaikan apresiasinya atas penampilan para anggota hadroh yang telah menampilkan seni religi dengan penuh keikhlasan dan penghayatan. Menurutnya, seni keagamaan memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat dengan cara yang lembut dan menyentuh.

“Shalawat bukan hanya untaian pujian, tetapi juga sarana mempererat hati dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah. Ketika budaya dan nilai-nilai agama berjalan beriringan, maka lahirlah kehidupan masyarakat yang harmonis dan penuh keberkahan,” ungkapnya.

Peresmian Yayasan Paseban Banokeling sendiri menjadi momentum berharga yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah dalam semangat kebersamaan. Di tempat yang sarat sejarah itu, hadroh menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan dan memperkuat persaudaraan.

Di balik denting rebana dan syair-syair pujian yang dilantunkan, tersimpan harapan yang begitu dalam. Harapan agar generasi muda tetap mencintai tradisi yang baik, menjaga warisan budaya, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika acara berakhir dan suara hadroh perlahan mereda, kesan yang ditinggalkan justru semakin kuat. Seolah setiap nada yang mengalun tidak berhenti di telinga, melainkan menetap di relung hati. Mengingatkan bahwa kehidupan akan terasa lebih indah ketika manusia mampu merawat cinta kepada Tuhan, menghormati warisan leluhur, dan menjaga persaudaraan sesama manusia.

Malam itu, Banokeling tidak hanya menjadi saksi peresmian sebuah yayasan. Ia juga menjadi saksi bagaimana shalawat mampu menjembatani hati, menghidupkan kenangan, dan menumbuhkan harapan. Sebuah pelajaran sederhana namun abadi, bahwa kelembutan suara yang lahir dari ketulusan sering kali lebih kuat daripada gemuruh dunia yang bising.