MAGIS GTK, Ruang Refleksi untuk Kuatkan Langkah dan Semangat Kurikulum Berbasis Cinta
Oleh MTSN3 Banyumas
Banyumas – Setiap perjalanan pendidikan membutuhkan jeda untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang telah tumbuh, dan apa yang perlu diperbaiki. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan sosialisasi dan pembinaan MAGIS GTK di MTs Negeri 3 Banyumas yang dipandu oleh Pengawas Madrasah, Istikomah. Kamis (10/09)
Kegiatan diawali dengan arahan Kepala Madrasah, Sudir, yang mengajak seluruh GTK untuk membiasakan membaca Surah Al-Fatihah sebelum memulai setiap kegiatan. Menurutnya, Al-Fatihah bukan sekadar bacaan pembuka, tetapi juga bentuk ikhtiar untuk menghadirkan keberkahan, memohon petunjuk, serta menyatukan niat agar setiap aktivitas yang dilakukan memberikan manfaat.
“Mari kita biasakan mengawali setiap kegiatan dengan Al-Fatihah. Kita niatkan apa yang kita lakukan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Ketika niatnya baik, mudah-mudahan prosesnya dimudahkan dan hasilnya membawa keberkahan bagi madrasah dan murid-murid kita,” pesan H. Sudir.
Memasuki kegiatan inti, Ibu Istikomah memberikan penguatan sekaligus bimbingan terkait pengisian MAGIS GTK, khususnya pada bagian-bagian yang berkaitan dengan refleksi kondisi, rencana kerja, dan kegiatan yang telah terlaksana. GTK diarahkan untuk tidak sekadar mengisi setiap poin yang tersedia, tetapi mampu melihat kembali perjalanan tugas dan pengabdiannya secara jujur, terarah, dan bermakna.
Dalam pembinaannya, pengawas madrasah membantu GTK memahami poin-poin yang terdapat dalam MAGIS, sehingga setiap isian dapat menggambarkan kondisi nyata sekaligus menjadi pijakan untuk menentukan langkah perbaikan dan pengembangan ke depan. Dengan demikian, MAGIS diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen refleksi yang membantu guru dan tenaga kependidikan mengenali kekuatan, mengevaluasi proses, serta menyusun rencana kerja yang lebih terarah.
Hal menarik turut disampaikan Ibu Istikomah ketika memperkenalkan tagline madrasah yang menjadi penguat arah pembinaan, yaitu “Unggul, Ramah, Terintegrasi.” Tiga kata tersebut menjadi pesan yang selaras dengan upaya madrasah untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, membangun lingkungan yang ramah, sekaligus mengintegrasikan berbagai potensi dan program dalam satu gerak bersama.
Pembinaan juga dikaitkan dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Guru tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan tugas pembelajaran, tetapi juga menghadirkan nilai cinta dalam proses pendidikan—cinta kepada Allah, cinta kepada ilmu, cinta kepada murid, cinta kepada sesama, serta cinta terhadap lingkungan. Nilai tersebut diharapkan tercermin dalam cara guru merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, dan mengembangkan pembelajaran.
Melalui MAGIS, refleksi akhirnya menemukan makna yang lebih luas. Apa yang telah dikerjakan bukan sekadar dicatat, tetapi dibaca kembali sebagai pengalaman; apa yang belum optimal bukan untuk disesali, melainkan menjadi bahan perbaikan; sementara rencana kerja bukan sekadar daftar kegiatan, tetapi komitmen untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MTs Negeri 3 Banyumas untuk terus membangun budaya kerja yang reflektif, terarah, dan berkelanjutan. Dengan semangat “Unggul, Ramah, Terintegrasi”, diperkuat nilai Kurikulum Berbasis Cinta, serta diawali dengan doa dan niat yang baik, setiap langkah GTK diharapkan semakin bermakna dalam menghadirkan madrasah yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam nilai, karakter, dan keteladanan.(HumasMTsN3).
