Muallaf Mencari Cahaya Keyakinan Ditengah Pergulatan Hidup

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas - Di ruangan pelayanan yang dipenuhi aroma ketulusan, langkah seorang warga dari Kecamatan Jatilawang tampak bergetar pelan saat memasuki Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Wajahnya menyimpan kegelisahan, namun di matanya juga terpancar harapan baru—harapan untuk menemukan jalan hidup yang diyakininya akan menuntun hati menuju ketenangan. Di tempat itulah, Paryanto, staf KUA Jatilawang, menerima kedatangannya dengan penuh kesabaran dan kehangatan, memberikan konsultasi terkait keinginannya untuk memeluk agama Islam. Selasa (05/05/26)

Dengan tutur kata yang lembut dan sikap yang meneduhkan, Paryanto mendengarkan setiap pertanyaan serta keraguan yang disampaikan warga tersebut. Tidak ada nada menghakimi, tidak pula terburu-buru. Yang hadir hanyalah suasana penuh penghormatan terhadap perjalanan batin seseorang yang sedang mencari cahaya keyakinan di tengah pergulatan hidupnya.

“Kami berusaha mendampingi dengan hati, karena setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang tidak mudah,” ujar Paryanto dengan penuh ketulusan saat memberikan penjelasan mengenai syarat, proses, serta makna menjadi seorang mualaf.

Percakapan yang berlangsung sederhana itu justru menghadirkan suasana haru. Di balik meja pelayanan yang sering dipandang sebagai tempat urusan administratif semata, hari itu KUA Jatilawang menjadi saksi perjalanan jiwa seorang manusia yang ingin mendekat kepada Tuhan dengan keyakinan baru. Kata demi kata yang disampaikan Paryanto tidak hanya berupa penjelasan formal, melainkan juga nasihat yang menenangkan hati.

Pelayanan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa tugas aparatur KUA bukan sekadar mengurus dokumen keagamaan, tetapi juga menghadirkan ruang aman bagi masyarakat yang sedang mencari jawaban atas kegelisahan batinnya. Dengan penuh empati, Paryanto memastikan bahwa warga yang berkonsultasi merasa diterima, dihormati, dan didampingi dalam setiap proses yang akan dijalani.

Di tengah kehidupan yang sering berjalan tergesa-gesa dan penuh penilaian, sikap humanis yang ditunjukkan Paryanto menjadi oase yang menyejukkan. Ia membuktikan bahwa dakwah tidak selalu hadir lewat mimbar besar, tetapi dapat tumbuh dari senyum tulus, kesabaran mendengar, dan ketenangan saat membimbing sesama manusia menuju keyakinan yang diyakininya.

Hari itu, di sudut kecil KUA Jatilawang, bukan hanya sebuah konsultasi yang berlangsung. Ada hati yang sedang belajar mantap melangkah, ada harapan yang perlahan menemukan arah, dan ada ketulusan pelayanan yang diam-diam menjadi pelita bagi jiwa yang tengah mencari cahaya Tuhan.