Ngopi Secangkir: Ketika Secangkir Kopi Jadi Ruang Bertumbuhnya Iman dan Gagasan
Sokaraja — Dakwah tidak selalu harus hadir dalam suasana yang formal. Kadang, ia tumbuh dari tempat yang sederhana: sebuah musala, beberapa orang yang duduk bersama, secangkir kopi, lalu percakapan yang perlahan membuka cakrawala. Semangat itulah yang dihidupkan Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja, Muhamad Nuh, melalui Majelis Taklim “Ngopi Secangkir”. Rabu (07/10)
Ngopi Secangkir merupakan akronim dari “Ngobrolin Perkara Iman Sambil Bincang-bincang dan Tukar Pikir.” Konsep tersebut menjadikan majelis ini bukan sekadar forum pengajian, tetapi ruang silaturahmi yang interaktif, dialogis, dan terbuka. Peserta tidak hanya datang untuk mendengar, tetapi juga diberi kesempatan bertanya, menyampaikan pengalaman, menguji gagasan, dan bersama-sama mencari pemahaman terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Kegiatan rutin ini berlangsung setiap malam Rabu selepas salat Magrib berjamaah di Musala SD Sokaraja Kidul. Dalam suasana yang santai, pembicaraan dapat berkembang dari persoalan keimanan, ibadah, keluarga, sosial kemasyarakatan hingga berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Suasana santai justru membuat diskusi terasa dekat dan tidak berjarak.
Bagi Muhamad Nuh, ruang dialog seperti ini penting karena masyarakat membutuhkan tempat untuk bertanya tanpa merasa dihakimi dan belajar tanpa merasa digurui. Pertanyaan yang muncul dalam forum menjadi pintu masuk untuk memperluas pengetahuan sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan.
Dalam Ngopi Secangkir, kopi menjadi simbol sederhana dari sebuah tradisi yang sebenarnya telah lama hidup di tengah masyarakat: duduk bersama, berbincang, saling mendengar, dan mencari jalan keluar melalui kebersamaan.
Secangkir kopi tidak sekadar menemani percakapan. Ia menjadi pengikat suasana—mencairkan jarak, membuka komunikasi, dan menghadirkan ruang perjumpaan antara ilmu agama dengan realitas kehidupan.
Forum tersebut juga tidak hanya dilaksanakan di satu lokasi. Aula PP Tadzkirotul Ikhwan menjadi salah satu ruang lain yang digunakan untuk mengembangkan kegiatan dan memperluas jangkauan dialog. Dengan demikian, Ngopi Secangkir bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat, tanpa kehilangan karakter utamanya sebagai majelis yang santai namun sarat pengetahuan.
Kekuatan Ngopi Secangkir terletak pada kesederhanaannya. Tidak ada sekat yang terlalu tinggi antara penyampai materi dan peserta. Semua dapat mengambil bagian dalam percakapan. Dari sinilah proses pembelajaran menjadi lebih hidup karena ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi dipertukarkan dan dikaitkan dengan pengalaman nyata.
Model dakwah semacam ini menjadi penting di tengah perubahan zaman. Masyarakat, khususnya generasi muda, membutuhkan ruang keagamaan yang mampu menjawab pertanyaan mereka secara terbuka, rasional, dan tetap berpijak pada nilai-nilai agama.
Ngopi Secangkir pada akhirnya bukan sekadar agenda malam Rabu. Ia merupakan ikhtiar membangun budaya belajar, budaya dialog, dan budaya silaturahmi di tengah masyarakat. Sebuah upaya kecil untuk memastikan bahwa tradisi mencari ilmu tetap hidup, meski zaman terus berubah.
Dari secangkir kopi, lahir percakapan. Dari percakapan, tumbuh pemahaman. Dari pemahaman, lahir kesadaran. Dan dari kesadaran, semoga lahir perubahan.
Ngopi Secangkir — Ngobrolin Perkara Iman, Sambil Bincang-bincang dan Tukar Pikir. Sebuah majelis sederhana yang mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu membutuhkan panggung besar. Terkadang, cukup dengan niat yang tulus, ilmu yang dibagikan, dan beberapa orang yang bersedia duduk bersama untuk belajar.
