Penyuluh KUA Jatilawang Ajak Jamaah Masjid Miftahul Ulum Renungi Perkara Penyebab Suul Khatimah
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kehidupan manusia ibarat perjalanan panjang yang suatu saat akan sampai pada batasnya. Setiap langkah akan meninggalkan jejak, setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap hati menyimpan harapan yang sama: mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman kepada Allah SWT. Namun, tidak semua perjalanan berakhir sebagaimana yang diharapkan. Karena itu, menjaga iman hingga akhir hayat menjadi ikhtiar yang tidak boleh diabaikan. Senin (05/10)
Pesan mendalam tersebut menjadi ruh dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang dilaksanakan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, bersama jamaah Masjid Miftahul Ulum. Dalam kegiatan tersebut, ia mengangkat materi “Perkara-Perkara yang Menyebabkan Su’ul Khatimah”, sebagai pengingat agar umat Islam senantiasa menjaga hati, memperbaiki amal, serta mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan.
Su’ul khatimah merupakan akhir kehidupan yang buruk, yakni ketika seseorang meninggal dunia dalam keadaan yang tidak diridai Allah SWT. Pembahasan ini bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan ketakutan yang mematahkan harapan, melainkan membangkitkan kesadaran agar setiap muslim tidak terlena oleh panjangnya usia, banyaknya harta, tingginya kedudukan, ataupun kesibukan mengejar urusan dunia.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk merenungkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Sehat tidak selamanya, muda tidak akan terus bertahan, dan kesempatan berbuat baik tidak selalu datang untuk kedua kalinya. Ada saat ketika lisan tak lagi mampu mengucapkan istigfar, tangan tak lagi sanggup bersedekah, dan kaki tak lagi dapat melangkah menuju rumah Allah. Pada saat itulah, manusia hanya dapat berharap agar amal dan rahmat Allah SWT menjadi bekal kepulangannya.
Sejumlah perkara yang perlu diwaspadai sebagai penyebab seseorang terjerumus ke dalam akhir kehidupan yang buruk antara lain terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa keinginan bertobat, meremehkan kewajiban agama, membiarkan hati dikuasai kesombongan, memelihara kedengkian, serta terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Kebiasaan menunda-nunda tobat juga dapat membuat seseorang merasa masih memiliki banyak waktu, padahal tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemput.
Selain itu, Muhammad Taubah mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Hati yang gemar menyakiti, lisan yang mudah memfitnah, tangan yang mengambil hak orang lain, serta sikap enggan meminta maaf dapat menjadi beban moral yang tidak sepatutnya dibawa hingga akhir hayat. Kesalehan bukan hanya tercermin dalam panjangnya doa dan banyaknya ibadah, melainkan juga dalam kemampuan menghadirkan ketenteraman bagi orang lain.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 102:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga keimanan bukan pekerjaan sesaat, melainkan perjuangan sepanjang hayat. Iman perlu dirawat melalui ibadah, ilmu, amal saleh, lingkungan yang baik, dan kesungguhan untuk kembali kepada Allah setiap kali melakukan kesalahan.
Dalam kesempatan itu, jamaah juga diajak memahami bahwa pembahasan su’ul khatimah tidak boleh digunakan untuk menghakimi keadaan akhir seseorang. Hanya Allah SWT yang mengetahui isi hati dan akhir perjalanan setiap hamba. Seorang manusia tidak berhak memastikan bahwa orang tertentu akan mengalami akhir yang buruk. Sebaliknya, setiap muslim hendaknya menjadikan materi ini sebagai sarana introspeksi diri, memperbanyak doa, serta menumbuhkan harapan terhadap rahmat dan ampunan Allah.
Sebab, selama napas masih berembus, pintu tobat tetap menjadi harapan bagi orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Sebesar apa pun kesalahan masa lalu, seorang hamba tidak sepatutnya berputus asa dari rahmat Allah. Yang terpenting adalah kesediaan untuk berhenti dari kemaksiatan, menyesali kesalahan, bertekad tidak mengulanginya, serta menyelesaikan hak-hak sesama manusia yang pernah dilanggar.
Melalui bimbingan dan penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah berharap jamaah Masjid Miftahul Ulum semakin meningkatkan kualitas ibadah, menjaga akhlak, mempererat silaturahmi, dan membiasakan diri melakukan kebaikan tanpa menunggu datangnya usia senja.
Pada akhirnya, yang patut direnungkan bukanlah seberapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana ia mengisi kehidupannya. Bukan seberapa banyak pujian yang diterima ketika masih bernapas, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi keluarga dan sesama. Bukan pula seberapa megah rumah yang dibangun di dunia, melainkan seberapa kuat iman yang dipelihara untuk menghadap Allah SWT.
Semoga setiap langkah yang masih diberi kesempatan menjadi jalan menuju ampunan, setiap air mata penyesalan menjadi awal perubahan, dan setiap amal kebaikan menjadi bekal ketika perjalanan dunia berakhir.
Sebab, kita semua sedang berjalan menuju kematian. Kita tidak tahu kapan perjalanan itu selesai, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk menentukan bagaimana kita mempersiapkan diri. Semoga Allah SWT menganugerahkan husnul khatimah kepada kita semua, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan beriman serta diridai-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
