Penyuluh KUA Jatilawang Beri Penjelasan pada Jamaah Masjid Al Amin Tentang Ibadah yang Tak Terputus Pahalanya
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kematian adalah batas bagi perjalanan manusia di dunia, tetapi bukan berarti seluruh jejak kebaikannya ikut terkubur bersama jasadnya. Ada amal yang tetap mengalirkan pahala meskipun pemiliknya telah lama meninggalkan dunia. Ada kebaikan yang terus menyapa kehidupan orang lain, bahkan ketika nama pembuatnya perlahan dilupakan manusia. Dan ada doa tulus dari anak saleh yang menjadi hadiah paling mengharukan bagi orang tua yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Senin (05/10)
Pesan penuh makna tersebut menjadi inti kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang dilaksanakan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, bersama jamaah Masjid Al Amin. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan materi bertajuk “Amal Ibadah yang Tidak Pernah Putus Pahalanya”, sebagai ajakan kepada umat Islam untuk memperbanyak amal jariah, menanamkan ilmu yang bermanfaat, serta mendidik generasi yang saleh dan salehah.
Melalui kegiatan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jamaah merenungkan hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa manusia boleh saja mengumpulkan harta, membangun rumah, meraih jabatan, dan menikmati berbagai kemudahan dunia. Namun, semua itu pada akhirnya akan ditinggalkan. Ketika napas terakhir terembus, tangan tak lagi mampu bekerja, lisan tak lagi dapat berbicara, dan langkah tak lagi sanggup menuju tempat ibadah.
Pada saat itu, manusia tidak lagi dapat menambah amal melalui perbuatannya sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah SWT untuk terus mengalirkan pahala melalui amal yang telah ditinggalkannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi landasan utama pembahasan tentang tiga amalan yang dapat terus memberikan manfaat dan pahala bagi seorang muslim setelah meninggal dunia, dengan izin Allah SWT.
Muhammad Taubah menjelaskan bahwa sedekah jariah merupakan amal yang manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang. Contohnya adalah berkontribusi dalam pembangunan masjid, menyediakan sumber air bersih, membantu pembangunan sarana pendidikan, mewakafkan tanah, atau memberikan fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat.
Nilai sedekah jariah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya nominal, tetapi juga oleh keikhlasan dan manfaat yang dihadirkan. Tidak semua orang memiliki kekayaan berlimpah, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai kemampuan.
Bayangkan seseorang yang semasa hidupnya membantu menyediakan tempat belajar Al-Qur’an bagi anak-anak. Bertahun-tahun kemudian, tempat itu masih dipenuhi suara santri yang melantunkan ayat-ayat suci. Anak-anak terus belajar, para guru terus mengajar, dan masyarakat terus merasakan manfaatnya. Betapa indah jika kebaikan sederhana yang dahulu dilakukan dengan ikhlas menjadi bagian dari amal yang terus mengalir atas rahmat Allah SWT. Sebab, harta yang disimpan hanya akan menjadi kenangan bagi ahli waris, sedangkan harta yang dimanfaatkan untuk kebaikan dapat meninggalkan manfaat yang jauh melampaui usia pemiliknya.
Amal kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang lain, bahkan setelah orang yang mengajarkannya tiada. Seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada murid-muridnya, seorang ustaz yang membimbing masyarakat memahami agama, atau seseorang yang membagikan pengetahuan yang berguna, semuanya berpeluang meninggalkan warisan kebaikan melalui ilmu yang diamalkan.
Satu nasihat yang benar mungkin mengubah arah kehidupan seseorang. Satu pelajaran tentang kejujuran dapat mencegah seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang gemar berbohong. Satu ajaran tentang kesabaran mungkin menyelamatkan sebuah keluarga dari kehancuran akibat amarah.
Kebaikan ilmu memiliki daya jangkau yang luar biasa. Orang yang menerima ilmu dapat mengajarkannya kembali kepada orang lain. Dengan demikian, manfaatnya dapat terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui materi ini, Muhammad Taubah mengajak jamaah agar tidak meremehkan kesempatan berbagi ilmu. Mengajarkan bacaan salat kepada anak, membimbing seseorang membaca Al-Qur’an, menyampaikan nasihat yang benar, dan memberikan teladan akhlak yang baik merupakan bagian dari ikhtiar menebarkan manfaat.
Amal ketiga adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Bagian ini menjadi pengingat yang sangat menyentuh tentang besarnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Setiap orang tua tentu berharap anaknya tumbuh sehat, berhasil, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari gelar, pekerjaan, atau kekayaan yang dimiliki seorang anak. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari iman, akhlak, dan kesediaannya mendoakan orang tua.
Ada orang tua yang sepanjang hidupnya bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Mereka mungkin tidak mampu meninggalkan rumah mewah atau tabungan berlimpah. Ada ayah yang menahan lelah tanpa banyak bercerita, dan ada ibu yang menyembunyikan kesedihan agar anak-anaknya tetap tersenyum.
Ketika mereka telah tiada, salah satu hadiah terindah yang dapat diberikan seorang anak adalah doa yang tulus. Dalam kesunyian malam, seorang anak mengangkat tangan dan menyebut nama ayah serta ibunya dalam doa. Ia memohon agar Allah mengampuni dosa keduanya, melimpahkan rahmat kepada mereka, dan menempatkan mereka dalam kemuliaan di sisi-Nya.
Barangkali orang tua itu telah lama beristirahat di dalam tanah. Rumah yang dahulu ramai oleh suara mereka kini terasa sunyi. Namun, kasih sayang yang ditanamkan selama hidup tetap tumbuh dalam hati anak yang tidak pernah melupakan jasa-jasanya.
Allah SWT mengajarkan doa bagi kedua orang tua dalam Surah Al-Isra ayat 24: “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
Doa tersebut mengingatkan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka meninggal dunia. Seorang anak masih dapat berbakti melalui doa, memohonkan ampun bagi keduanya, menjaga silaturahmi, serta meneruskan kebaikan yang telah mereka ajarkan.
Dalam penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah, tidak perlu menunggu menjadi orang terkenal untuk berbagi ilmu, dan tidak perlu menunggu kehilangan orang tua untuk menyadari betapa berharganya kesempatan berbakti.
Selagi masih hidup, manusia masih memiliki kesempatan untuk menanam kebaikan. Selagi masih sehat, ada tenaga yang dapat digunakan untuk menolong. Selagi masih memiliki ilmu, ada pengetahuan yang dapat dibagikan. Selagi orang tua masih bersama kita, masih ada kesempatan untuk memeluk, menghormati, membahagiakan, dan meminta maaf kepada mereka.
Jangan sampai penyesalan baru datang ketika kesempatan telah tertutup. Jangan sampai tangan yang dahulu enggan membantu baru ingin memberi ketika tak lagi mampu bergerak. Dan jangan sampai doa untuk orang tua hanya menjadi tangisan panjang setelah suara mereka tak mungkin lagi kita dengar.
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan di Masjid Al Amin, Muhammad Taubah berharap jamaah semakin termotivasi membangun kebiasaan beramal, mendidik keluarga dalam kebaikan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang berapa lama seseorang tinggal di dunia, melainkan tentang kebaikan apa yang tetap hidup setelah dirinya tiada. Manusia mungkin akan dilupakan oleh sebagian orang, tetapi manfaat dari amal yang tulus dapat terus dirasakan oleh mereka yang ditinggalkan.
Suatu hari, nama kita mungkin tak lagi disebut dalam percakapan. Rumah kita mungkin ditempati orang lain. Harta yang kita kumpulkan mungkin berpindah tangan. Namun, semoga ada doa anak saleh yang terus terangkat, ilmu bermanfaat yang tetap diamalkan, dan kebaikan yang terus dirasakan oleh sesama.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang gemar bersedekah, ikhlas membagikan ilmu, dan bersungguh-sungguh mendidik generasi yang saleh. Semoga setiap kebaikan yang kita tanam menjadi bekal ketika perjalanan dunia berakhir, dan semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita, keluarga kita, serta orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita.
