HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Kenalkan Jamaah Masjid Mujahidin Tentang Golongan Umat yang Dapat Meredam Murka Allah

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di tengah kehidupan yang kerap dipenuhi kesibukan mengejar dunia, manusia terkadang lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada harta, jabatan, dan segala kemewahan: memperoleh rida Allah SWT serta terhindar dari murka-Nya. Sebab, setinggi apa pun seseorang berdiri di hadapan manusia, ia tetaplah hamba yang membutuhkan ampunan dan kasih sayang Tuhannya. Senin (05/10)

Pesan penuh makna tersebut menjadi inti kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang dilaksanakan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, bersama jamaah Masjid Mujahidin. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “Golongan Umat yang Bisa Meredam Murka Allah SWT”, sebagai upaya menumbuhkan kesadaran umat Islam untuk memperbaiki kualitas keimanan, memperindah akhlak, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Melalui penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan seorang muslim bukan semata-mata tentang seberapa banyak ibadah yang dilakukan secara pribadi, melainkan juga tentang bagaimana ibadah itu membentuk kepedulian, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Kedekatan kepada Allah semestinya menjadikan seseorang semakin lembut hatinya, semakin santun lisannya, dan semakin ringan tangannya untuk menolong mereka yang membutuhkan.

Salah satu golongan yang patut diteladani adalah orang-orang yang senantiasa bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Namun, mereka tidak membiarkan dosa menjadi tempat tinggal bagi hati. Setiap kali terjatuh, mereka berusaha bangkit; setiap kali melakukan kekhilafan, mereka kembali mengetuk pintu ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 222:

“Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Ayat tersebut mengandung harapan yang begitu luas bagi setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang terlalu kotor untuk memohon ampun selama ia bersungguh-sungguh kembali kepada Allah. Tobat bukan sekadar penyesalan yang berhenti pada air mata, melainkan keberanian meninggalkan keburukan dan kesungguhan memperbaiki kehidupan.

Selain orang-orang yang bertobat, Muhammad Taubah juga mengajak jamaah meneladani mereka yang bertakwa, gemar berbuat baik, mampu menahan amarah, serta bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Golongan ini tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menindas, tidak menggunakan kata-kata untuk merendahkan, dan tidak membalas setiap luka dengan luka yang baru.

Allah SWT menggambarkan sifat orang-orang bertakwa dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133–134, yaitu mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Pesan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Betapa banyak perselisihan yang berawal dari ucapan yang tidak dijaga. Betapa banyak hubungan keluarga yang merenggang karena masing-masing ingin menang sendiri. Betapa banyak persaudaraan yang retak bukan karena persoalan besar, melainkan karena tidak ada yang bersedia menurunkan ego dan mengulurkan tangan untuk berdamai.

Padahal, terkadang satu kata maaf mampu menyelamatkan hubungan yang hampir hancur. Satu uluran tangan dapat menghidupkan kembali harapan seseorang. Dan satu keputusan untuk memaafkan bisa membebaskan hati dari beban kebencian yang bertahun-tahun dipelihara.

Muhammad Taubah juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap kaum lemah, anak yatim, fakir miskin, tetangga, serta siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan. Kesalehan hendaknya tidak berhenti di dalam masjid, tetapi berjalan bersama umat ketika mereka pulang ke rumah, bekerja, bermasyarakat, dan berhadapan dengan persoalan kehidupan.

Sebab, bisa jadi ada orang yang tidak mampu membalas kebaikan kita dengan harta, tetapi ia mengangkat tangan pada sepertiga malam untuk mendoakan kita. Bisa jadi ada orang yang hanya kita beri sedikit pertolongan, tetapi pertolongan itu menjadi alasan baginya untuk kembali memiliki harapan. Kebaikan yang terlihat kecil di mata manusia tidak sepatutnya diremehkan.

Dalam penyuluhan tersebut, jamaah juga diajak memahami bahwa tidak seorang pun dapat menjamin dirinya terbebas dari murka Allah hanya karena merasa telah banyak beribadah. Keselamatan seorang hamba tetap bergantung pada iman, amal saleh, keikhlasan, dan rahmat Allah SWT. Karena itu, materi ini bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan menjadi cermin bagi setiap diri untuk terus memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Pesan yang disampaikan Muhammad Taubah mengingatkan bahwa meredam sebab-sebab kemurkaan Allah harus dimulai dari diri sendiri. Menjauhi kezaliman, menghentikan kebiasaan menyakiti, menunaikan amanah, menjaga lisan, serta memperbanyak istigfar merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari.

Jangan sampai seseorang begitu mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa menghitung kekhilafannya sendiri. Jangan sampai lisannya fasih menasihati, tetapi perilakunya justru melukai. Dan jangan sampai ia sibuk mencari kemuliaan di mata manusia, sementara hatinya jauh dari kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan di Masjid Mujahidin, Muhammad Taubah berharap jamaah semakin memahami pentingnya takwa yang tercermin dalam perilaku nyata: beribadah dengan tulus, mengendalikan amarah, memaafkan dengan lapang dada, menyantuni mereka yang membutuhkan, dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan ilmu untuk mengetahui mana yang benar, tetapi juga hati yang lapang untuk menjalankannya. Sebab, ilmu yang berhenti di lisan belum tentu mengubah kehidupan, sedangkan ilmu yang meresap ke dalam hati akan tumbuh menjadi akhlak dan kebaikan.

Semoga kita termasuk golongan hamba yang dicintai Allah SWT: mereka yang bertobat ketika bersalah, bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika diuji, menahan amarah ketika terluka, memaafkan ketika mampu membalas, serta tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian.

Semoga kehadiran kita di dunia tidak menambah luka bagi sesama, tetapi menjadi jalan hadirnya ketenteraman. Semoga tangan kita lebih sering memberi daripada mengambil, lisan kita lebih banyak menyejukkan daripada menyakitkan, dan hati kita lebih sibuk memohon ampun daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Dengan rahmat Allah SWT, semoga kita dijauhkan dari segala sebab kemurkaan-Nya dan dibimbing menuju kehidupan yang penuh keberkahan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.