Peresmian Yayasan Paseban Banokeling, Jaga Warisan Adat dan Teguhkan Harmoni Kehidupan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di tengah semilir angin yang berembus pelan dari rimbunnya pepohonan tua dan jejak sejarah yang masih terawat di Komplek Desa Adat Banokeling, Desa Pekuncen, sebuah peristiwa sarat makna berlangsung dengan khidmat. Peresmian Yayasan Paseban Banokeling menjadi momentum penting yang tidak hanya menandai berdirinya sebuah lembaga, tetapi juga menjadi simbol ikhtiar bersama dalam menjaga warisan budaya, kearifan lokal, dan nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan para leluhur. Kamis (25/06)

Hadir dalam kegiatan tersebut tiga Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, yakni Muhammad Asyadi, Dedy Purwanto, dan Abdul Khanan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam merawat harmoni sosial, memperkuat persaudaraan, serta mendukung berbagai upaya pelestarian budaya yang selaras dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan.

Suasana peresmian berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Berbagai tokoh masyarakat, pemangku adat, unsur pemerintah, serta warga sekitar berkumpul dalam satu ruang kebersamaan yang memperlihatkan indahnya keberagaman. Di tempat yang sarat nilai sejarah tersebut, setiap langkah seakan mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati akar budayanya.

Muhammad Asyadi menyampaikan bahwa keberadaan Yayasan Paseban Banokeling diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur masa lalu dengan kebutuhan generasi masa depan. Menurutnya, pelestarian adat dan budaya bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan merawat identitas serta memperkuat karakter masyarakat.

Sementara itu, Dedy Purwanto menilai bahwa sinergi antara tokoh agama dan tokoh adat merupakan kekuatan besar dalam menjaga kerukunan. Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama tetap menjadi fondasi yang harus dijaga.

Hal senada disampaikan Abdul Khanan yang mengungkapkan bahwa budaya dan agama memiliki tujuan yang sama, yakni menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah masyarakat yang tidak hanya maju secara lahiriah, tetapi juga kaya secara batiniah.

Peresmian Yayasan Paseban Banokeling menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia hadir sebagai pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, terdapat warisan nilai yang harus terus dirawat. Sebagaimana akar pohon yang tak pernah tampak namun menopang seluruh kehidupan di atasnya, demikian pula adat dan budaya menjadi penyangga jati diri masyarakat.

Di penghujung acara, senyum dan harapan tampak menghiasi wajah para hadirin. Mereka menyadari bahwa menjaga warisan leluhur bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan menyiapkan bekal bagi generasi yang akan datang. Sebab sejarah yang dijaga dengan cinta akan tumbuh menjadi cahaya yang menerangi perjalanan bangsa.

Melalui peresmian Yayasan Paseban Banokeling, terselip pesan yang begitu dalam: bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak tradisi, dan perbedaan tidak harus melahirkan jarak. Justru dalam keberagaman yang dirawat dengan kasih sayang, manusia menemukan makna persaudaraan yang sesungguhnya. Sebuah pelajaran berharga yang terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi, sebagaimana mata air yang tak pernah berhenti memberi kehidupan.