Sabar Adalah Tetap Berusaha, Berdoa, dan Tidak Berputus Asa Ketika Hadapi Ujian
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di TPQ Nurul Huda yang dipenuhi suara anak-anak mengaji, harapan masa depan sedang ditanam dengan cara yang lembut namun mendalam. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, hadir di tengah santri, menyampaikan satu pelajaran yang tak lekang oleh waktu yaitu : meneladani kesabaran Nabi Ayub AS. Kamis (23/04)
Sore itu, lantunan ayat-ayat suci perlahan mereda, berganti dengan kisah yang mengalir tenang dari bibir Muhammad Taubah. Dengan gaya tutur yang hangat dan penuh penghayatan, ia mengisahkan perjalanan hidup Nabi Ayub—seorang hamba yang diuji dengan kehilangan, sakit, dan kesendirian, namun tetap teguh dalam kesabaran dan keimanan.
Para santri menyimak dalam diam. Mata mereka yang polos seolah menyerap setiap kata, mencoba memahami bahwa hidup tak selalu mudah, namun selalu ada cara untuk tetap kuat. Di sela kisah itu, Muhammad Taubah mengajak mereka merenung, bahwa sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap teguh, tetap berdoa, dan tidak berputus asa dalam menghadapi ujian.
“Kalau kita diuji, jangan langsung mengeluh. Ingat Nabi Ayub, yang tetap sabar meski kehilangan segalanya,” tuturnya pelan, dengan nada yang mengandung pesan mendalam.
Suasana menjadi hening. Ada getar halus yang menjalar—sebuah kesadaran sederhana yang tumbuh dalam hati kecil para santri. Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami beratnya ujian hidup, namun benih kesabaran telah mulai ditanamkan sejak dini.
Kegiatan ini bukan sekadar proses belajar mengajar. Ia adalah perjalanan membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menghadirkan teladan dalam bentuk yang dapat dipahami oleh anak-anak. Muhammad Taubah tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan keteladanan—bahwa kesabaran adalah kekuatan yang harus dipelajari dan dilatih.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tantangan, pelajaran tentang sabar menjadi semakin relevan. Dan di TPQ Nurul Huda, nilai itu diajarkan dengan cara yang sederhana namun menyentuh—melalui kisah, melalui ketulusan, dan melalui kehadiran seorang pendidik yang mengajar dengan hati.
Saat pelajaran berakhir, senyum-senyum kecil kembali menghiasi wajah para santri. Mereka mungkin belum menyadari sepenuhnya arti besar dari apa yang baru saja mereka dengar. Namun suatu hari nanti, ketika hidup menguji mereka, kisah Nabi Ayub yang ditanamkan hari itu akan kembali hadir—menjadi penguat, menjadi penuntun, dan menjadi cahaya dalam gelap.
Di ruang sederhana TPQ Nurul Huda, pelajaran tentang kesabaran tidak hanya diajarkan—tetapi ditanamkan, perlahan, dalam hati yang masih suci dan dari sanalah, masa depan yang lebih kuat sedang disiapkan.
