Sedekah Bumi sebagai Momentum Syukur dan Berbagi
Oleh KUA Wangon
Banyumas – Masyarakat Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil pertanian dan kelestarian alam. Acara yang berlangsung khidmat di pelataran situs budaya setempat ini dihadiri oleh tokoh adat, perangkat desa, serta penyuluh agama dari KUA Wangon. Kehadiran penyuluh agama dalam prosesi ini bertujuan untuk memberikan penguatan nilai-nilai religius di tengah kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun oleh warga. Selasa (12/05)
Dalam kesempatan tersebut, Joharulloh, selaku Penyuluh Agama Islam, memberikan pesan mendalam mengenai korelasi antara tradisi dan ajaran agama. Ia menekankan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar ritual budaya, melainkan implementasi nyata dari rasa syukur kepada Sang Pencipta. Menurutnya, semangat berbagi makanan dan hasil bumi kepada sesama dalam acara ini merupakan cerminan ajaran Islam yang sangat menekankan kesalehan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
"Sedekah Bumi ini adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat tali silaturahmi. Kami mengajak warga Cikakak untuk menjadikan tradisi ini sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan semangat berbagi. Dalam pandangan agama, menjaga harmoni dengan alam dan sesama manusia adalah bagian dari iman, dan kegiatan ini membuktikan bahwa budaya bisa menjadi jembatan menuju ketakwaan," ungkap Joharulloh.
Di sisi lain, Katsir selaku tokoh adat Desa Cikakak, menyambut hangat pendampingan yang diberikan oleh pihak Kemenag melalui penyuluh agama. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Cikakak sangat memegang teguh warisan leluhur, namun tetap terbuka terhadap arahan yang bersifat membimbing. Baginya, kehadiran tokoh agama memberikan ketenangan batin bagi warga bahwa tradisi yang mereka jalankan tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebaikan yang diakui secara luas.
"Kami merasa terhormat dan bersyukur dengan kehadiran Bapak Penyuluh. Kehadiran beliau memastikan bahwa adat istiadat yang kami jalankan di Desa Cikakak ini tetap selaras dengan ajaran agama. Bagi kami, Sedekah Bumi adalah cara menghargai bumi yang memberi kita kehidupan, dan bimbingan dari Penyuluh Agama membuat makna syukur kami menjadi lebih sempurna," tutur Katsir di sela-sela prosesi adat.
Acara yang berlangsung di kawasan yang dikenal dengan sejarah Masjid Saka Tunggal ini diakhiri dengan doa bersama dan makan bersama dari gunungan hasil bumi yang dibawa warga. Sinergi antara penyuluh agama dan tokoh adat ini diharapkan terus terjaga, sehingga Desa Cikakak tetap menjadi contoh desa yang mampu merawat moderasi beragama dengan cara menghormati tradisi lokal tanpa meninggalkan jati diri religiusnya. (jhr)
