Telusuri Hikayah Asbabunnuzul Perintah Qurban Nabi Ibrahim bersama KH Amanto Afifudin

Oleh KUA Somagede
SHARE

Banyumas - Suasana hangat menyelimuti pertemuan rutin Majelis Taklim binaan KUA Somagede MT Al-Mawaddah. Kali ini, fokus jamaah tertuju pada untaian hikmah yang disampaikan oleh KH Amanto Afifudin. Beliau mengangkat sebuah tema yang selalu relevan menjelang hari raya Idul Adha: Hikayah Asbabunnuzul Perintah Qurban. Kisah ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan pondasi utama dalam memahami loyalitas mutlak seorang hamba kepada Penciptanya. Kamis (07/05)

KH Amanto Afifudin memulai ceramahnya dengan menjelaskan bahwa perintah qurban bermula dari mimpi Nabi Ibrahim AS. Dalam tradisi kenabian, mimpi seorang Nabi adalah haq (wahyu). Ibrahim AS bermimpi menyembelih putra tunggalnya saat itu, Ismail AS. Kejadian ini terjadi berulang kali sebagai bentuk pemurnian niat dan ujian kesabaran yang luar biasa berat bagi seorang ayah yang telah menanti buah hati selama puluhan tahun.

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'" (QS. As-Saffat: 102)
 Asbabunnuzul: Ujian Cinta di Atas Segalanya

Dalam kajiannya, KH Amanto menekankan bahwa asbabunnuzul perintah ini berkaitan erat dengan posisi Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah (Kekasih Allah). Allah ingin membuktikan kepada alam semesta bahwa di hati Ibrahim, tidak ada satu pun makhluk yang menandingi kecintaannya kepada Allah, bahkan Ismail yang sangat dicintainya sekalipun.

  1. Ketulusan Ibrahim. Kesediaan Ibrahim melaksanakan perintah tanpa tapi menunjukkan totalitas dalam berislam.
  2. Kesalehan Ismail. Ismail tidak membantah, justru menguatkan ayahnya untuk taat pada perintah Allah.
  3. Godaan Setan. Momen lempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap bisikan yang menghalangi ketaatan.

KH Amanto mengingatkan jamaah Majelis Taklim Al-Mawaddah bahwa "Ismail" adalah simbol dari apa yang paling kita cintai di dunia. Berqurban berarti menyembelih sifat kebinatangan dalam diri manusia seperti rakus, sombong, dan mementingkan diri sendiri.

Setiap tetesan darah hewan qurban yang mengalir bukanlah yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari orang yang melaksanakannya. Ini adalah inti dari dakwah yang disampaikan beliau agar jamaah tidak terjebak pada ritualitas formalitas belaka.

  1. Melatih keikhlasan dalam berbagi harta terbaik kepada sesama.
  2. Meneladani keteguhan keluarga Ibrahim dalam menghadapi ujian hidup.
  3. Mempererat ukhuwah islamiyah melalui pendistribusian daging qurban.

Di akhir kajian, KH Amanto Afifudin memberikan pandangan bahwa qurban di era digital ini harus diiringi dengan manajemen yang profesional. Majelis Taklim Al-Mawaddah diharapkan mampu menjadi pelopor dalam pengorganisasian qurban yang berdampak luas bagi umat, terutama bagi mereka yang membutuhkan di wilayah pelosok. (Mas Kawit)