HUT RI #81

Jadi Remaja yang Mampu Mengendalikan Diri

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Masa remaja adalah masa ketika hati sedang belajar memahami dirinya sendiri. Emosi terkadang datang lebih cepat daripada pikiran, kata-kata dapat meluncur sebelum dipertimbangkan, dan sebuah keputusan kecil hari ini terkadang membawa pengaruh panjang bagi masa depan. Karena itu, membekali remaja dengan kemampuan mengelola diri bukan sekadar pendidikan tambahan, melainkan investasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang matang, bijaksana, dan bertanggung jawab. Jumat (14/08)

Semangat tersebut diwujudkan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, melalui kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMAN 3 Purwokerto. Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Taubah menyampaikan materi tentang pengendalian emosi, keterampilan komunikasi, dan pengambilan keputusan sebagai bekal penting bagi para remaja dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengajak para siswa memahami bahwa memiliki emosi bukanlah kelemahan. Marah, kecewa, sedih, takut, dan bahagia merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang menjadi persoalan bukanlah hadirnya emosi, melainkan bagaimana seseorang mengelolanya agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita bisa belajar memilih bagaimana meresponsnya,” pesan Muhammad Taubah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan seseorang bukan hanya terlihat ketika ia mampu memenangkan perdebatan atau menunjukkan keberanian. Terkadang, kekuatan terbesar justru tampak ketika seseorang mampu menahan kata-kata kasar saat marah, memilih diam sejenak ketika emosi memuncak, lalu kembali berbicara setelah pikirannya lebih jernih.

Pengendalian emosi menjadi semakin penting di tengah kehidupan remaja yang penuh perubahan. Tekanan belajar, pertemanan, keluarga, lingkungan sosial, hingga penggunaan media digital dapat menghadirkan berbagai situasi yang menguji ketenangan. Karena itu, kemampuan mengenali emosi, mengambil jeda, berpikir sebelum bertindak, dan mencari solusi secara sehat perlu dilatih sejak usia sekolah.

Selain pengendalian emosi, Muhammad Taubah memberikan perhatian pada keterampilan komunikasi. Para siswa diajak memahami bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan, menghargai pendapat, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang tidak melukai.

Satu kalimat yang diucapkan dengan tergesa-gesa dapat meninggalkan luka yang lama. Sebaliknya, satu kalimat sederhana seperti “Aku memahami perasaanmu” dapat membuat seseorang yang sedang berada dalam kesulitan merasa tidak sendirian.

Karena itu, komunikasi yang baik membutuhkan hati yang bersedia mendengar. Di tengah dunia yang semakin ramai dengan suara, seorang remaja justru perlu belajar menjadi manusia yang mampu mendengarkan sebelum menjawab, memahami sebelum menilai, dan berpikir sebelum menyebarkan sesuatu.

Materi berikutnya, pengambilan keputusan, juga menjadi bagian penting dalam BRUS. Muhammad Taubah mengajak siswa menyadari bahwa masa depan tidak hanya dibentuk oleh keputusan besar, tetapi juga oleh pilihan-pilihan kecil yang dilakukan berulang kali setiap hari.

Memilih teman, menggunakan waktu, merespons masalah, menggunakan media sosial, menentukan prioritas belajar, hingga berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang tidak baik merupakan bagian dari proses membangun masa depan.

Remaja yang bijaksana bukan remaja yang tidak pernah salah mengambil keputusan, melainkan remaja yang mau belajar dari kesalahan dan berani bertanggung jawab atas pilihannya.

Dalam perspektif agama, kemampuan mengendalikan diri juga merupakan bagian dari kematangan akhlak. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa menahan amarah bukan berarti menjadi manusia yang lemah. Justru di situlah terdapat kekuatan untuk mengendalikan diri ketika emosi sedang mendesak seseorang agar bertindak tanpa berpikir panjang.

BRUS di SMAN 3 Purwokerto menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya berbicara tentang pengetahuan, tetapi juga tentang kehidupan. Para siswa dibekali kesadaran bahwa menjadi dewasa bukan sekadar bertambah usia, melainkan bertambah kemampuan untuk mengendalikan diri, berkomunikasi dengan baik, serta mempertimbangkan akibat dari setiap pilihan.

Di balik wajah para remaja yang mungkin tampak penuh canda dan tawa, sesungguhnya masing-masing sedang membawa perjalanan hidupnya sendiri. Ada yang sedang mengejar cita-cita, ada yang sedang berjuang memahami dirinya, ada yang mungkin sedang menyimpan persoalan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Karena itu, sebuah nasihat yang baik mungkin akan tinggal lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Mungkin hari ini seorang siswa hanya mendengar pesan tentang pentingnya menahan emosi. Namun bertahun-tahun kemudian, ketika ia berada dalam situasi sulit, pesan itu mungkin kembali teringat. Mungkin hari ini ia belajar tentang komunikasi, tetapi suatu hari kelak kemampuan mendengarkan itu dapat menyelamatkan persahabatan, keluarga, bahkan masa depannya.

Begitulah pendidikan yang sesungguhnya: ilmu yang tidak hanya memenuhi kepala, tetapi perlahan membentuk hati dan menyelamatkan langkah.

Melalui kegiatan BRUS tersebut, Muhammad Taubah berharap para siswa SMAN 3 Purwokerto mampu menjadi generasi yang tidak mudah dikendalikan oleh emosi, tidak gegabah dalam mengambil keputusan, serta mampu membangun komunikasi yang sehat dengan keluarga, teman, guru, dan masyarakat.

Sebab masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memiliki kecerdasan tinggi. Masa depan juga membutuhkan manusia yang mampu menahan amarah ketika memiliki kekuasaan, mampu berbicara santun ketika berbeda pendapat, dan mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kebaikan bersama.

Pada akhirnya, seorang remaja mungkin belum mengetahui akan menjadi apa dirinya beberapa tahun mendatang. Namun ia dapat mulai menentukan akan menjadi manusia seperti apa.

Semoga BRUS yang dilaksanakan Muhammad Taubah di SMAN 3 Purwokerto menjadi bekal yang tumbuh perlahan dalam diri para siswa. Semoga mereka menjadi generasi yang kuat tanpa kasar, berani tanpa arogan, cerdas tanpa merendahkan, serta mampu mengambil keputusan dengan hati yang jernih.

Sebab kelak, ketika mereka telah dewasa dan meninggalkan bangku sekolah, mungkin mereka tidak lagi mengingat seluruh materi yang pernah disampaikan.

Namun semoga mereka masih mengingat satu pesan sederhana:

Ketika emosi datang, tenangkan hati. Ketika berbicara, jagalah perasaan. Ketika memilih, pikirkan masa depan.

Karena terkadang, satu emosi yang berhasil dikendalikan dapat menyelamatkan sebuah hubungan; satu kalimat yang diucapkan dengan bijak dapat menyembuhkan luka; dan satu keputusan yang dipikirkan dengan matang dapat mengubah seluruh arah kehidupan.