HUT RI #81

Jangan Sampai Hati Kita Mati Sebelum Tubuh Kita Mati, Pesan Penyuluh KUA Jatilawang Kepada Jamaah Masjid At Taubat

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
07 Okt 2026
7x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 07-10-2026 15:36
SHARE

Banyumas — Tidak semua orang yang masih bernapas benar-benar hidup. Ada tubuh yang berjalan, bekerja, tertawa, dan bercengkerama, tetapi hatinya perlahan kehilangan cahaya. Ia masih hidup secara jasmani, namun nuraninya telah lama sunyi. Rabu (07/10)

Pesan mendalam itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan Agama bersama jamaah Masjid At Taubat, dengan mengangkat tema “Jangan Sampai Hati Kita Mati Sebelum Tubuh Kita Mati.”

Di hadapan jamaah, Muhammad Taubah mengajak setiap insan untuk tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga merawat kehidupan hati. Sebab, tubuh yang kuat tanpa hati yang hidup dapat kehilangan arah, sementara hati yang senantiasa dekat dengan Allah SWT akan menjadi sumber ketenangan dalam menjalani berbagai ujian kehidupan.

Menurutnya, kematian yang paling mengkhawatirkan bukan semata-mata ketika napas berhenti dan jasad terbujur kaku, melainkan ketika hati sudah tidak lagi mampu merasakan dosa sebagai dosa, tidak lagi tersentuh oleh nasihat, dan tidak lagi rindu kepada Allah SWT.

“Hati bisa mati ketika dosa tidak lagi membuat kita merasa bersalah, ketika nasihat tidak lagi menyentuh, ketika azan tidak lagi menggerakkan langkah, dan ketika kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah,” pesan Muhammad Taubah.

Ia mengingatkan jamaah bahwa hati manusia dapat mengalami sakit sebagaimana tubuh. Penyakit hati terkadang tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya dapat merusak seluruh kehidupan. Kesombongan, iri hati, dendam, cinta dunia yang berlebihan, riya, kebencian, dan enggan bertaubat merupakan sebagian penyakit yang secara perlahan dapat memadamkan cahaya hati.

Ironisnya, penyakit tersebut sering kali tidak terasa.

Seseorang dapat begitu sibuk membersihkan rumah, tetapi lupa membersihkan hatinya. Dapat begitu cermat menjaga penampilan, tetapi lalai memperbaiki akhlaknya. Dapat menghitung keuntungan dan kerugian dunia dengan sangat teliti, tetapi lupa menghitung berapa banyak dosa yang telah dibawa setiap hari.

Dalam penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: Masihkah hati kita bergetar ketika nama Allah disebut? Masihkah kita merasa bersalah setelah berbuat dosa? Masihkah kita menangis ketika mengingat dosa dan kesalahan kepada orang tua? Masihkah kita takut ketika membayangkan kematian?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi cermin bagi setiap jiwa. Sebab terkadang manusia terlalu sibuk memikirkan kapan ajal akan datang, tetapi lupa mempersiapkan hati untuk menyambutnya.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa hati yang hidup bukan berarti hati yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hati yang hidup adalah hati yang segera kembali ketika tersesat, memohon ampun ketika berdosa, bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika diuji, serta tetap berharap kepada Allah ketika seluruh jalan kehidupan terasa sempit.

“Jangan malu untuk kembali kepada Allah. Seberapapun jauhnya kita melangkah, pintu taubat tidak pernah ditutup selama nyawa belum sampai di tenggorokan,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi renungan bagi jamaah. Sebab tidak sedikit manusia yang baru menyadari betapa berharganya waktu ketika waktu itu telah habis. Baru merindukan orang tua setelah mereka tiada. Baru ingin memperbanyak ibadah ketika tubuh sudah lemah. Baru ingin meminta maaf ketika kesempatan telah tertutup oleh kematian.

Padahal kematian tidak pernah mengirimkan surat pemberitahuan. Ia datang tanpa menunggu usia tua, tanpa menunggu kaya, tanpa menunggu semua urusan selesai.

Karena itu, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk menghidupkan hati sejak hari ini. Memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta membiasakan diri melakukan kebaikan meskipun kecil.

Sebab bisa jadi, amal yang dianggap kecil oleh manusia justru menjadi sebab Allah menyelamatkan seseorang pada hari ketika tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan selain rahmat-Nya. Lebih jauh, ia mengajak jamaah agar menjadikan masjid bukan hanya tempat untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga tempat untuk menghidupkan kembali hati yang mulai lelah oleh hiruk-pikuk dunia.

Di masjid, manusia belajar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba. Di dalam sujud, kesombongan runtuh. Di dalam doa, segala kepura-puraan menjadi tidak berarti. Dan dalam tangis yang hanya diketahui Allah, seorang hamba menemukan kembali dirinya.

Pada akhirnya, tubuh manusia akan kembali menjadi tanah. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan berpindah tangan. Rumah yang dibangun dengan susah payah akan dihuni orang lain. Nama yang dahulu dipuji perlahan dilupakan. Yang dibawa hanyalah amal.

Maka sebelum tubuh benar-benar kembali kepada tanah, marilah memastikan bahwa hati masih hidup bersama iman. Jangan tunggu hati kita mati untuk kemudian mencari cahaya. Jangan tunggu ajal datang untuk kemudian ingin bertaubat. Jangan tunggu kehilangan untuk kemudian belajar menghargai. Sebab kehidupan yang sesungguhnya bukanlah tentang berapa panjang usia yang kita miliki, melainkan tentang seberapa banyak usia itu kita gunakan untuk mendekat kepada Allah SWT. Dan ketika kelak tubuh terbaring untuk terakhir kalinya, semoga hati kita masih hidup, penuh iman, penuh harap, dan mampu mengucapkan dengan tenang: “Ya Allah, aku pulang kepada-Mu.”