Jelang Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Penyuluh KUA Sokaraja Perkuat Sinergi Lintas Sektor
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Menjelang pelaksanaan Upacara Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, Penyuluh Agama Islam satuan kerja KUA Sokaraja, Muhamad Nuh, melakukan silaturahmi lintas sektoral dengan jajaran staf Kecamatan Sokaraja. Rabu (30/09)
Silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat integritas, komunikasi, dan sinergi dalam membangun masyarakat Sokaraja yang majemuk. Keberagaman agama dan kepercayaan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang perlu dirawat melalui komunikasi dan kerja sama lintas sektor.
Dalam suasana santai, perbincangan berlangsung hangat ditemani secangkir kopi. Obrolan berkembang dari persiapan upacara hingga berbagai gagasan mengenai kehidupan masyarakat Sokaraja, termasuk pentingnya pemberdayaan ekonomi kreatif warga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah petugas yang akan terlibat dalam Upacara Hari Kesaktian Pancasila. Beberapa di antaranya mendapat tugas dalam barisan dan persiapan lapangan. Di tengah kesibukan tersebut, mereka tetap menunjukkan semangat untuk menyukseskan pelaksanaan upacara agar berlangsung tertib dan khidmat.
Bagi Muhamad Nuh, Lc., sinergi lintas sektoral bukan sekadar hubungan kedinasan. Lebih dari itu, sinergi merupakan cara untuk memastikan pembangunan masyarakat berjalan secara menyeluruh, dari lini pemerintahan hingga kehidupan warga sehari-hari.
“Membangun masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri. Setiap lini memiliki peran. Ketika komunikasi terjaga dan semua pihak mau bergerak bersama, keberagaman justru menjadi kekuatan,” menjadi semangat dalam silaturahmi tersebut.
Momentum Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila tidak berhenti pada upacara dan simbol. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, kepedulian sosial, pelayanan kepada masyarakat, serta kerja bersama untuk menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Di tengah masyarakat Sokaraja yang memiliki latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam, komunikasi lintas sektor menjadi jembatan penting untuk menjaga suasana yang harmonis. Penyuluh agama pun memiliki ruang strategis untuk ikut membangun komunikasi yang sejuk bersama pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.
Dari secangkir kopi pahit, lahir percakapan yang hangat. Dari percakapan, tumbuh gagasan. Dan dari gagasan yang dikerjakan bersama, diharapkan lahir perubahan nyata bagi masyarakat.
