HUT RI #81

Kolaborasi KUA Jatilawang dan Tokoh Agama Desa Pekuncen Untuk Wujudkan Pelayanan Sosial yang Menyentuh Kebutuhan Nyata Masyarakat

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
15 Okt 2026
12x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 15-10-2026 12:19
SHARE

Jatilawang — Kepedulian seorang tokoh agama tidak selalu diwujudkan melalui ceramah di mimbar atau nasihat di majelis pengajian. Terkadang, kepedulian justru hadir dalam langkah sederhana: mendampingi warga mengurus keperluan administrasi, mengurai kebingungan, dan memastikan sebuah niat baik menemukan jalan untuk diwujudkan. Keteladanan itulah yang ditunjukkan Kyai Haji Arlam, tokoh agama Desa Pekuncen, yang membantu warganya, Rijal Fikri Sopyan Ajid, dalam mengurus permohonan rekomendasi nikah ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kramatjati, Jakarta Timur. Kamis (15/10)

Bagi sebagian orang, pengurusan dokumen mungkin tampak sebagai urusan administratif biasa. Namun, bagi seseorang yang sedang mempersiapkan pernikahan, setiap persyaratan memiliki arti penting. Di balik berkas yang harus dilengkapi, tersimpan harapan untuk membangun keluarga, menyatukan dua insan, serta memulai perjalanan hidup dengan ikatan yang sah dan penuh tanggung jawab.

Memahami kebutuhan warganya, Kyai Haji Arlam hadir memberikan bantuan dan pendampingan agar Rijal dapat menjalani proses pengurusan rekomendasi nikah dengan lebih terarah. Kepedulian tersebut menjadi gambaran bahwa peran tokoh agama tidak berhenti pada pembinaan kehidupan spiritual, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pelayanan sosial yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.

Bantuan itu sekaligus mencerminkan eratnya hubungan antara tokoh agama dan warga. Kedekatan yang tumbuh melalui kehidupan bermasyarakat menjadikan seorang tokoh agama bukan sekadar tempat bertanya tentang persoalan keagamaan, melainkan juga tempat mencari nasihat dan pertolongan ketika menghadapi urusan kehidupan.

Pernikahan sendiri bukan hanya peristiwa ketika dua orang duduk berdampingan di hadapan penghulu, mengucapkan ijab kabul, lalu menerima ucapan selamat. Lebih dari itu, pernikahan merupakan awal dari tanggung jawab panjang untuk saling menjaga, menguatkan ketika menghadapi kesulitan, dan merawat kasih sayang di tengah perubahan zaman.

Karena itulah, membantu seseorang mempersiapkan pernikahan sesungguhnya turut menjadi bagian dari ikhtiar mengantarkan sebuah keluarga menuju kehidupan yang lebih baik. Dukungan kecil yang diberikan hari ini dapat menjadi kenangan berharga ketika kelak pasangan tersebut mengenang orang-orang yang pernah membantu mereka menapaki jalan menuju pelaminan.

Kisah Kyai Haji Arlam dan Rijal Fikri Sopyan Ajid mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Terkadang, kebaikan cukup berupa kesediaan meluangkan waktu, menunjukkan jalan yang benar, dan menemani seseorang agar tidak merasa sendirian dalam menyelesaikan urusannya.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kepedulian semacam ini menjadi pengingat bahwa masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang maju secara ekonomi, melainkan juga masyarakat yang warganya bersedia saling membantu dan tokoh-tokohnya hadir ketika dibutuhkan.

Sebab, ada pertolongan yang mungkin tampak sederhana bagi pemberinya, tetapi terasa begitu besar bagi orang yang menerimanya. Bisa jadi, suatu hari nanti, ketika Rijal telah membangun rumah tangganya sendiri, ia akan mengenang bahwa sebelum sampai pada hari bahagianya, pernah ada seorang tokoh agama yang dengan tulus membantunya membuka jalan. Semoga kepedulian Kyai Haji Arlam menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat gotong royong, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.