HUT RI #81

KUA Sokaraja Dorong Penyuluh Tingkatkan Profesionalisme sebagai Fasilitator Bimbingan Perkawinan

KUA Sokaraja
KUA Sokaraja
07 Okt 2026
6x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 07-10-2026 15:24
SHARE

Sokaraja — Pelayanan pernikahan tidak berhenti pada pencatatan akad. Di balik sebuah pernikahan, ada tanggung jawab besar untuk membangun keluarga yang kokoh, harmonis, dan mampu menghadapi dinamika kehidupan. Kesadaran inilah yang mendorong KUA Sokaraja untuk terus meningkatkan kapasitas Penyuluh Agama Islam, khususnya dalam menjalankan peran sebagai fasilitator Bimbingan Perkawinan (Binwin). Rabu (07/10)

Melalui kepala kantor, KUA Sokaraja mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam agar memiliki kompetensi yang memadai dan mampu mengikuti diklat khusus fasilitator Binwin. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama bagi calon pengantin yang membutuhkan bekal pengetahuan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Dorongan peningkatan kompetensi ini berangkat dari pemahaman bahwa fasilitator Binwin bukan sekadar menyampaikan materi. Seorang fasilitator dituntut mampu membangun komunikasi, memahami persoalan keluarga, menyampaikan pesan secara edukatif, serta mengarahkan calon pengantin agar memiliki kesiapan mental, spiritual, sosial, dan pengetahuan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Profesionalisme penyuluh menjadi kunci. Semakin baik kapasitas fasilitator, semakin kuat pula kualitas bimbingan yang diterima calon pengantin. Karena itu, diklat bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan investasi sumber daya manusia untuk menghadirkan pelayanan KUA yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Bagi KUA Sokaraja, Bimbingan Perkawinan merupakan salah satu ruang strategis untuk menanamkan pemahaman tentang komunikasi pasangan, pengelolaan konflik, tanggung jawab keluarga, ketahanan keluarga, hingga pentingnya membangun rumah tangga yang berlandaskan nilai agama.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari semangat pelayanan KUA Sokaraja yang ingin hadir lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Penyuluh tidak hanya datang ketika masyarakat membutuhkan nasihat, tetapi dipersiapkan agar mampu menjadi pendamping yang kompeten sebelum persoalan rumah tangga muncul.

Pada akhirnya, keluarga sakinah tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun dari pengetahuan, kesiapan, kesabaran, komunikasi, dan nilai-nilai agama yang terus dirawat. Dari ruang pelayanan KUA, ikhtiar itu dimulai; dari tangan fasilitator yang profesional, bekal itu diberikan.

KUA Sokaraja terus mendorong para penyuluh untuk belajar, meningkatkan kompetensi, dan menjadi fasilitator Binwin yang profesional. Sebab pelayanan yang baik bukan hanya menyelesaikan urusan hari ini, tetapi menyiapkan keluarga agar tetap kuat menghadapi hari esok.