Menjaga Nilai-Nilai Empati dalam Setiap Pelayanan Kepada Masyarakat

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di antara lalu lalang pelayanan masyarakat di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatilawang, hadir sebuah pemandangan sederhana yang menyimpan makna mendalam tentang pengabdian dan kemanusiaan. Bukan tentang kemewahan ruang pelayanan, melainkan tentang ketulusan hati dalam membantu warga menjaga dokumen penting yang menjadi saksi perjalanan hidup mereka. Rabu (13/05)

Muji Riyanti, staf KUA Jatilawang, melayani Ibu Kasem, warga Jatilawang, yang datang ke kantor untuk mengurus duplikat buku nikah. Kedatangan perempuan paruh baya itu berlangsung dalam suasana tenang dan penuh harap, membawa kebutuhan administrasi yang bagi sebagian orang mungkin tampak biasa, namun sesungguhnya menyimpan nilai yang sangat berarti bagi keberlangsungan kehidupan keluarga.

Dengan ramah dan penuh kesabaran, Muji Riyanti memberikan penjelasan mengenai prosedur pengurusan duplikat buku nikah, mulai dari kelengkapan persyaratan hingga tahapan administrasi yang harus dipenuhi. Setiap penjelasan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga menghadirkan rasa nyaman bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

Di balik lembaran buku nikah yang hendak digantikan itu, tersimpan sejarah panjang perjalanan rumah tangga, tentang janji suci yang pernah diikrarkan, tentang perjuangan membangun keluarga, dan tentang waktu yang terus berjalan bersama segala ujian kehidupan.

Muji Riyanti menuturkan bahwa pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan sepenuh hati, terlebih bagi warga yang membutuhkan kepastian administrasi untuk berbagai keperluan penting.

“Dokumen pernikahan adalah bagian penting dari identitas keluarga. Karena itu kami berusaha memberikan pelayanan yang cepat, jelas, dan membantu masyarakat agar kebutuhan administrasinya dapat terselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Ibu Kasem tampak lega setelah memperoleh arahan dan pendampingan dalam proses pengurusan tersebut. Wajahnya memancarkan rasa syukur ketika setiap tahapan dijelaskan dengan sabar dan penuh perhatian.

Momen sederhana itu kembali memperlihatkan bahwa pelayanan publik sejatinya bukan hanya soal pekerjaan administratif, tetapi juga tentang menghadirkan rasa dihargai dan didengarkan. Ketika masyarakat datang dengan kebingungan, aparatur hadir menjadi penuntun yang menenangkan.

KUA Jatilawang terus berupaya menghadirkan pelayanan yang humanis dan menyentuh hati. Di tengah tumpukan arsip dan dokumen negara, para petugas tetap menjaga nilai-nilai empati dalam setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Karena pada akhirnya, selembar buku nikah bukan hanya dokumen hukum semata. Ia adalah saksi cinta, pengikat sejarah keluarga, dan pengingat bahwa setiap rumah tangga memiliki kisah perjuangan yang layak dijaga hingga akhir hayat.