Sorak Suporter Jadi Kekuatan yang Membangkitkan Semangat Untuk Terus Berjuang di Seleksi Porseni Penyuluh Agama

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Tidak semua perjuangan berdiri di tengah arena pertandingan. Ada pula ketulusan yang hadir dari pinggir lapangan, melalui tepuk tangan, doa, dan suara-suara penyemangat yang menguatkan langkah mereka yang sedang berjuang. Rabu (13/05)

Suasana hangat itu terasa begitu hidup di GOR Orion saat berlangsung seleksi Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Penyuluh Agama se-Eks Karesidenan Banyumas. Di tengah riuh pertandingan dan semangat kompetisi yang membara, hadir dua sosok penyuluh agama KUA Kecamatan Jatilawang, yakni Dwi Astuti dan Muhammad Asyhadi, yang dengan penuh kesetiakawanan turut menjadi suporter bagi rekan-rekan mereka yang sedang bertanding.

Dengan wajah penuh antusias dan semangat yang tak surut sejak pagi, keduanya terus memberikan dukungan kepada para peserta dari KUA Jatilawang. Tepuk tangan, sorakan penyemangat, hingga kata-kata motivasi mengalir tulus dari bibir mereka, menciptakan energi positif yang terasa menghangatkan suasana pertandingan.

Bagi Dwi Astuti dan Muhammad Asyhadi, hadir sebagai suporter bukan sekadar menyaksikan pertandingan olahraga. Lebih dari itu, mereka ingin menjadi bagian dari perjuangan bersama, menyalakan semangat dan menjaga kekompakan keluarga besar penyuluh agama.

“Kebersamaan itu penting. Kadang semangat terbesar justru lahir dari dukungan teman-teman yang selalu ada di samping kita,” ungkap Dwi Astuti dengan senyum hangat.

Sorak dukungan yang mereka berikan tampak sederhana, namun memiliki arti mendalam bagi para peserta yang sedang berjuang di lapangan. Di tengah rasa lelah dan ketegangan pertandingan, dukungan dari sesama rekan kerja menjadi kekuatan yang membangkitkan kembali semangat untuk terus berjuang.

Muhammad Asyhadi juga menyampaikan bahwa kegiatan seperti Porseni bukan hanya ajang kompetisi, melainkan ruang mempererat persaudaraan dan membangun solidaritas antar penyuluh agama dari berbagai wilayah.

“Kami datang bukan hanya untuk melihat pertandingan, tetapi untuk menunjukkan bahwa kami saling mendukung dan saling menguatkan sebagai satu keluarga besar,” tuturnya.

Di balik gemuruh pertandingan itu, tersimpan pemandangan yang begitu menyentuh hati. Ada persahabatan yang tumbuh tanpa pamrih, ada ketulusan yang hadir tanpa diminta, dan ada rasa memiliki yang menjadikan setiap kemenangan maupun kekalahan terasa dihadapi bersama-sama.

Porseni Penyuluh Agama se-Eks Karesidenan Banyumas akhirnya tidak hanya menjadi ajang olahraga dan seni semata. Ia menjelma menjadi ruang yang memperlihatkan indahnya nilai persaudaraan di antara para pengabdi umat. Bahwa dalam perjalanan pengabdian, manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.

Di sudut tribun GOR Orion itu, Dwi Astuti dan Muhammad Asyhadi mengajarkan satu hal sederhana namun begitu dalam: bahwa terkadang, menjadi penyemangat bagi orang lain adalah bentuk perjuangan yang paling tulus dan paling menguatkan hati.