Merawat Tanaman, Membumikan Ekoteologi
Oleh KUA Wangon
Banyumas - Suasana di Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon, kini tampak lebih asri dan menyejukkan mata. Pemandangan ini tidak lepas dari konsistensi para Aparatur Sipil Negara (ASN) setempat yang gencar melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan di area kantor. Bukan sekadar rutinitas penghijauan biasa, gerakan merawat berbagai jenis tanaman ini merupakan bentuk pengejawantahan dari konsep ekoteologi, sebuah teologi yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran menjaga alam semesta. Rabu (17/06)
Sebagai garda terdepan Kementerian Agama di tingkat kecamatan, pelayanan KUA Wangon kini tidak hanya terbatas pada urusan administratif pernikahan atau keagamaan semata. Para pegawai secara bergantian menyiram, memupuk, dan menata tanaman hias hingga tanaman obat keluarga (TOGA) di halaman kantor. Langkah kecil ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi masyarakat luas bahwa kesalehan seorang hamba tidak hanya diukur dari ibadah ritual, melainkan juga dari sejauh mana ia menjaga bumi yang diinjaknya.
Konsep ekoteologi yang digaungkan ini menegaskan kembali amanah manusia sebagai khalifah fil ard (pemimpin di bumi) yang bertugas merawat, bukan merusak. Dengan merawat tanaman secara telaten, KUA Wangon ingin menyebarkan pesan bahwa setiap jengkel tanah dan helai daun yang tumbuh memiliki hak untuk hidup dan memberikan manfaat bagi ekosistem sekitarnya. Lingkungan kantor yang hijau pun secara tidak langsung menciptakan atmosfer kerja yang lebih segar dan ramah bagi masyarakat yang datang berkunjung.
Gerakan ini juga menjadi sarana dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang terus disuarakan oleh para penyuluh agama setempat. Transformasi KUA menjadi kawasan ramah lingkungan ini diakui membawa dampak psikologis yang positif, baik bagi internal pegawai maupun warga yang sedang mengurus keperluan administrasi. Merawat alam kini telah bergeser nilai dari sekadar hobi menjadi sebuah kewajiban moral religius yang melekat pada setiap individu di KUA Wangon.
"Merawat tanaman ini adalah bagian dari ibadah kita kepada Sang Pencipta. Melalui ekoteologi, kita diingatkan bahwa menjaga kelestarian alam adalah mandat agama. Ketika kita menanam dan merawat satu pohon, kita sedang menanam kebaikan untuk generasi masa depan sekaligus melatih kelembutan hati," ujar Ni'mah, Penyuluh Agama KUA Wangon. (jhr)
