MUI Harus Jadi Guru yang Menentramkan Umat dan Pemerintah

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto (humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaduddin, meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memposisikan diri sebagai 'Guru' spiritual yang tidak hanya membimbing umat, tetapi juga menciptakan iklim kondusif bagi pemerintah dan investasi daerah. Permintaan ini disampaikan Ibnu Asaduddin saat membuka Rapat Kerja (Raker) Pengurus MUI Banyumas yang berlangsung di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Sabtu (01/11)

Mengawali sambutannya, Kakankemenag Ibnu Asaduddin mengutip sebuah pepatah Arab yang sangat populer, “Laulal ulama lakaanannaasu kal bahaaim,” yang berarti "Seandainya tiada ulama, niscaya manusia itu seperti binatang."

Pepatah ini, yang memiliki variasi lain yang menyebutkan peran ilmu, digunakan untuk menegaskan bahwa ulama adalah pembimbing spiritual dan ilmu pengetahuan bagi umat. Tanpa bimbingan, manusia hanya akan bertindak berdasarkan naluri."Senada dengan ungkapan 'Lau la al-murabbi ma ‘araftu rabbi' (Seandainya tidak ada guruku, niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku). Ungkapan ini menekankan pentingnya peran guru (pendidik) dalam membantu seseorang mengenal dan memahami Tuhan dengan lebih baik," jelas Ibnu.

Napoleon Bonaparte selalu meminta "suwuk" (doa atau mantra dari dukun/pemuka agama lokal, istilah Jawa untuk pengobatan alternatif/spiritual) kepada pendeta sebelum perang adalah tidak akurat secara historis. Napoleon dikenal memiliki pandangan yang pragmatis dan oportunistik terhadap agama, menggunakannya lebih sebagai alat politik dan kontrol sosial daripada keyakinan pribadi yang mendalam. Al-Hikam menekankan pentingnya guru sebagai pembimbing spiritual yang dapat menyingkap "tirai" antara murid dengan Tuhannya, bukan sekadar pemberi ilmu lisan. Guru yang sesungguhnya adalah orang yang isyarat-isyaratnya menyentuh hati, membangkitkan jiwa, dan menjernihkan cermin hati sehingga cahaya Ilahi bersinar terang. 

Ibnu Asaduddin mendorong MUI Banyumas untuk bertransformasi dari sekadar organisasi yang pasif menjadi aktor aktif di lapangan. Ia berharap Raker kali ini menghasilkan langkah nyata. "Jadikan MUI kali ini memposisikan diri sebagai guru yang menentramkan umatnya, menentramkan pemerintah sehingga tercipta iklim kondusif. Maka akan terjadi kondisi tenang, aman agar Pemerintah dan umat mampu mewujudkan Banyumas menjadi daerah terbaik untuk investasi," tegasnya.

Ia menambahkan, sudah bukan saatnya lagi MUI hanya menjadi teori dan hiasan pigura. "Kita yakin MUI kali ini adalah aktor terbaik di panggung sandiwara Tuhan yang disediakan kita, karena sesungguhnya kita ini hanyalah wakil Tuhan untuk menyapa hamba-Nya dengan penuh cinta yang dititipkan Tuhan di pundak kita," ujarnya dengan penuh semangat.

Sebagai langkah konkret untuk mendekatkan ajaran agama kepada umat, Kakankemenag Ibnu Asaduddin mengajak MUI untuk menghidupkan kembali pendopo-pendopo pemerintahan sebagai pusat syiar keagamaan."MUI harus mendekatkan umat ke dalam ajarannya dengan MENGHIDUPKAN PENDOPO Pemkab diisi dengan Peringatan Hari Besar Islam yang beberapa waktu terasa kering dari syiar-syiar keagamaan, diteruskan pendopo-pendopo Kecamatan dan balai desa," ajaknya.

Mengakhiri sambutannya, Ibnu Asaduddin berharap Raker MUI Banyumas dapat menghasilkan "SAPAAN SENTUHAN NYATA" yang dirasakan langsung oleh masyarakat Banyumas.