Penguatan Literasi Penyuluh Melalui Ruang Diskusi Interaktif

Oleh KUA Wangon
SHARE

Banyumas – Dalam rangka meningkatkan kualitas bimbingan keagamaan bagi masyarakat, Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon terus berkomitmen memacu kompetensi para pegawainya. Salah satu langkah konkret yang digalakkan adalah penguatan literasi kepenyuluhan bagi para Penyuluh Agama. Melalui wadah ruang diskusi interaktif yang digelar secara berkala, para penyuluh diberikan ruang khusus untuk saling bertukar gagasan, membedah regulasi terbaru, hingga merumuskan metode dakwah yang adaptif dengan perkembangan zaman. Rabu (17/06)

Penguatan literasi di lingkungan KUA Wangon ini tidak lagi dimaknai secara sempit sebatas aktivitas membaca konvensional. Literasi kepenyuluhan kini mencakup kemampuan analisis yang tajam terhadap isu-isu sosial keagamaan yang sedang berkembang di tengah masyarakat Wangon, seperti pencegahan pernikahan dini, moderasi beragama, hingga ketahanan keluarga. Dengan pemahaman literasi yang komprehensif, pesan-pesan kepenyuluhan yang disampaikan kepada umat diharapkan dapat menjadi lebih berbobot, solutif, dan mudah diterima.

Melalui forum diskusi interaktif ini, setiap penyuluh agama, baik yang berfokus pada bidang kepenulisan, maupun penyuluhan produk halal, dapat saling mengisi dan berbagi pengalaman lapangan. Dinamika kelompok yang sehat ini terbukti efektif memecahkan berbagai tantangan penyuluhan yang kerap ditemui di desa-desa binaan. Sinergi pemikiran antar-penyuluh ini memicu lahirnya inovasi-inovasi baru dalam penyampaian materi bimbingan publik.

Suasana dialogis yang terbangun di KUA Wangon ini disambut positif oleh jajaran fungsional di lapangan. Forum ini dinilai menjadi sarana re-charging keilmuan yang sangat menyegarkan di sela-sela rutinitas kedinasan yang padat. KUA Wangon berharap output dari penguatan literasi ini dapat langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas melalui kualitas penyuluhan yang semakin bermutu dan menyejukkan.

Penyuluh Agama KUA Wangon, Syarifudin, menegaskan bahwa ruang diskusi interaktif seperti ini menjadi motor penggerak penting untuk menjaga performa para penyuluh agar tetap prima dan relevan. Menurutnya, tantangan dakwah di era digital menuntut seorang penyuluh untuk kaya akan referensi dan tidak boleh monoton.

"Forum tukar gagasan ini sangat membantu kami untuk meng-upgrade kapasitas diri. Di sini kami tidak hanya berbagi teori, tetapi juga membedah kasus nyata di lapangan dan mencari solusi bersama. Melalui penguatan literasi yang interaktif ini, kami sebagai penyuluh di KUA Wangon bisa terus menyajikan materi bimbingan yang segar, edukatif, dan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat," pungkas Syarifudin. (jhr)