Pasangan Pemain Ebeg Ikuti Bimwin di KUA Sokaraja
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Suasana Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi Calon Pengantin di KUA Sokaraja berlangsung dinamis dan penuh interaksi. Salah satu momen menarik terjadi ketika fasilitator mengajak peserta membahas tema “Sungai Kehidupan”. Kamis (17/09)
Dalam sesi tersebut, calon pengantin diajak merefleksikan perjalanan kehidupan masing-masing, mulai dari pengalaman masa lalu, kondisi saat ini, hingga harapan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga. Saat berbagi cerita mengenai perjalanan hidup dan aktivitas kesehariannya, terungkap bahwa salah satu pasangan calon pengantin yang mengikuti Bimwin merupakan pemain seni tradisional Ebeg.
Profesi dan aktivitas mereka sebagai pemain Ebeg menjadi hal yang menarik perhatian peserta lainnya. Keduanya ternyata memiliki kecintaan terhadap seni tradisional yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Banyumas. Bimbingan Perkawinan tersebut difasilitasi oleh Faidus Sa’ad dan Muhammad Fiqih, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja.
Selain sesi “Sungai Kehidupan”, peserta mendapatkan pembekalan materi Pondasi Keluarga Sakinah, Psikologi Keluarga, Memenuhi Kebutuhan Keluarga, Kesehatan Reproduksi, serta Menyiapkan Generasi Berkualitas. Faidus Sa’ad menjelaskan bahwa metode refleksi melalui tema “Sungai Kehidupan” memberikan ruang bagi calon pengantin untuk mengenali perjalanan dirinya sekaligus memahami perjalanan hidup pasangannya.
“Melalui Sungai Kehidupan, calon pengantin diajak melihat kembali perjalanan hidupnya. Ada pengalaman, tantangan, orang-orang yang berpengaruh, serta harapan yang ingin dicapai. Dari sana pasangan dapat belajar saling mengenal dan memahami lebih dalam,” jelasnya.
Menurutnya, proses mengenal pasangan tidak cukup hanya mengetahui hal-hal yang tampak di permukaan. Pengalaman hidup, karakter, cita-cita, pekerjaan, serta nilai-nilai yang dimiliki masing-masing menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan keluarga.
Sementara itu, Muhammad Fiqih memberikan penguatan mengenai pentingnya komunikasi dalam rumah tangga. Pasangan suami istri perlu memiliki ruang untuk saling bercerita, mendengarkan dan memahami, terutama ketika menghadapi perbedaan maupun persoalan keluarga.
Arjuna mengaku mengikuti Bimwin dengan mendapatkan banyak wawasan baru. Ia tidak menyangka sesi “Sungai Kehidupan” dapat membuat peserta saling mengenal melalui cerita perjalanan hidup masing-masing.
“Dari materi Sungai Kehidupan, saya belajar bahwa setiap orang mempunyai perjalanan hidup dan pengalaman yang berbeda. Ketika diceritakan, pasangan menjadi lebih tahu apa yang pernah kita lalui dan apa yang menjadi harapan kita ke depan,” ungkap Arjuna.
Rr Sembodro juga merasakan manfaat yang sama. Menurutnya, materi Bimwin membuat dirinya dan pasangan lebih siap menghadapi kehidupan setelah menikah.
“Materinya bukan hanya tentang pernikahan secara teori, tetapi kami diajak memahami diri sendiri dan pasangan. Terutama bagaimana membangun komunikasi, memenuhi kebutuhan keluarga dan mempersiapkan generasi yang berkualitas,” tuturnya.
Keduanya berharap bekal yang diperoleh dalam Bimbingan Perkawinan dapat menjadi modal untuk membangun keluarga yang harmonis.
“Semoga setelah menikah kami bisa saling mendukung, seperti sungai yang terus mengalir melewati berbagai perjalanan. Kalau ada rintangan, bisa dihadapi bersama,” ujar Arjuna.
KUA Sokaraja terus mengembangkan pelaksanaan Bimbingan Perkawinan dengan pendekatan yang interaktif dan reflektif. Harapannya, calon pengantin tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu mengenali diri dan pasangannya sebagai bekal membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah serta menyiapkan generasi berkualitas.
Saya sengaja menjadikan “Sungai Kehidupan” sebagai titik balik cerita, sehingga profesi pemain Ebeg muncul sebagai temuan menarik dari proses Bimwin, bukan sejak paragraf awal. (Kontributor : Faidus Sa’ad).
