HUT RI #81

Saat Tubuh Ibu Sajem Terbaring, Ibadah Tak Pernah Berhenti

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di sebuah ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang, ketika tubuh sedang diuji oleh rasa sakit dan langkah tak lagi leluasa, hadir sebuah pengingat sederhana yang menenteramkan: bahwa dalam keadaan apa pun, seorang hamba tetap memiliki jalan untuk mendekat kepada Allah SWT. (Senin, 28/9)

Hal itu dirasakan Ibu Sajem, pasien yang sedang menjalani perawatan di Puskesmas Kecamatan Jatilawang. Di tengah kondisi tubuh yang membutuhkan perhatian dan istirahat, Ibu Sajem mendapat pendampingan dari Penyuluh Agama KUA Jatilawang.

Dengan penuh kelembutan dan kesabaran, Penyuluh Agama mengajarkan tata cara tayamum sebagai bentuk kemudahan bersuci bagi orang yang berada dalam kondisi tertentu, sekaligus membimbing cara melaksanakan shalat ketika sedang sakit, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Pendampingan itu berlangsung sederhana. Tidak ada mimbar, tidak ada pengeras suara, dan tidak ada jamaah yang ramai. Hanya ada seorang pasien yang sedang berjuang melawan sakit dan seorang Penyuluh Agama yang datang membawa ilmu, doa, serta penguatan hati.

Setiap tahapan dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ibu Sajem dibimbing bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah. Jika tidak mampu berdiri, shalat dapat dilakukan dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, dapat dilakukan sesuai kemampuan yang tersedia.

Di situlah wajah Islam yang penuh kasih terlihat begitu nyata: Allah tidak meminta hamba-Nya melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya.

Setelah memberikan bimbingan ibadah, Penyuluh Agama juga memberikan motivasi kepada Ibu Sajem agar tetap sabar, optimistis, dan tidak kehilangan harapan dalam menjalani proses pengobatan.

Nasihat disampaikan bukan sekadar sebagai kata-kata, tetapi sebagai bentuk kepedulian. Sebab orang yang sedang sakit terkadang tidak hanya membutuhkan obat untuk tubuhnya. Ia juga membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan keluh kesahnya, menguatkan hatinya, dan berkata bahwa semua akan ada jalan keluarnya.

Di tengah suasana perawatan, doa pun dipanjatkan.

Penyuluh Agama mendoakan agar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Ibu Sajem, mengangkat penyakitnya, memberikan kekuatan kepada tubuhnya, menenangkan hatinya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang mendampingi.

Mungkin doa itu sederhana. Namun bagi seseorang yang sedang terbaring sakit, doa yang tulus dapat menjadi kekuatan yang tidak terlihat oleh mata.

Sebab ada saat ketika tubuh manusia begitu lemah hingga untuk sekadar bangkit dari tempat tidur pun terasa berat. Pada saat seperti itulah, seseorang membutuhkan pengingat bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk bersandar.

Kehadiran Penyuluh Agama di tengah pasien yang sedang sakit menjadi bagian dari pelayanan keagamaan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Penyuluh tidak hanya hadir di masjid, majelis taklim, sekolah, atau forum masyarakat, tetapi juga berupaya hadir ketika masyarakat berada dalam keadaan membutuhkan penguatan spiritual.

Di ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang itu, sebuah pelajaran kehidupan kembali terasa: ibadah tidak mengenal kata menyerah. (tum)