Simbol Hangatnya Toleransi dan Syiar Islam di Garis Batas Wangon-Cilacap
Oleh KUA Wangon
Banyumas - Berdiri kokoh di area perbatasan, Masjid Nur Annisa yang terletak di Desa Rawaheng menjadi penanda spiritual sekaligus benteng syiar Islam paling ujung di wilayah selatan Kecamatan Wangon. Secara geografis, posisi masjid ini sangat unik karena berada di batas yang memisahkan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Keberadaannya bukan sekadar sebagai tempat ibadah ritual bagi warga sekitar, melainkan telah tumbuh menjadi pusat kegiatan sosial keagamaan yang memancarkan energi positif bagi masyarakat di kedua wilayah administratif tersebut. Kamis (18/06)
Sebagai tempat ibadah di tapal batas, Masjid Nur Annisa Rawaheng memegang peran strategis dalam merajut harmoni dan toleransi antarwarga. Perbedaan latar belakang geografis tidak menjadi sekat bagi para jemaah yang setiap hari memakmurkan masjid ini. Sebaliknya, kondisi perbatasan justru melahirkan rasa persaudaraan yang erat, di mana warga dari wilayah Wangon maupun Cilacap saling bergotong-royong dalam merawat fisik bangunan serta menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan secara berdampingan.
Aktivitas syiar Islam di masjid terluar ini berjalan dengan sangat dinamis dan membumi sepanjang tahun. Mulai dari pelaksanaan salat berjamaah, pengajian selapanan, hingga pendidikan Al-Qur'an untuk anak-anak pelosok desa, semuanya dikelola dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Letaknya yang berada di tepi jalur pelintasan antar-kabupaten juga membuat Masjid Nur Annisa sering menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagi para musafir yang membutuhkan ruang rehat sekaligus sarana menunaikan kewajiban ibadah.
Tantangan sebagai masjid paling ujung, seperti keterbatasan akses informasi dan jarak yang jauh dari pusat pemerintahan kecamatan, tidak menyurutkan semangat pengurus dan jemaah untuk terus berkembang. Melalui bimbingan dan koordinasi yang mulai intensif dari penyuluh agama instansi terkait, masjid ini perlahan bertransformasi menjadi pusat literasi keagamaan yang moderat. Pendekatan dakwah yang santun dan inklusif yang diterapkan di sini berhasil menangkal potensi gesekan sosial, sekaligus memperkuat benteng moral masyarakat di akar rumput.
Ketika senja mulai turun menyelimuti perbukitan Rawaheng dan suara azan magrib berkumandang memecah kesunyian perbatasan, ada pesan kedamaian yang mendalam yang tersiar dari Masjid Nur Annisa. Gema suci tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan jarak geografis bukanlah penghalang untuk menjaga api syiar Islam tetap menyala. Dari garis batas Wangon-Cilacap ini, Masjid Nur Annisa terus berdiri tegak sebagai simbol kehangatan umat, merajut keberagaman menjadi sebuah harmoni yang menyejukkan. (jhr)
