Sokaraja Kidul sebagai Desa Pancasila, Penyuluh KUA Sokaraja Dorong Pembinaan Berbasis Keberagaman
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Silaturahmi dan koordinasi menjadi bagian penting dalam memperkuat tugas Penyuluh Agama Islam di wilayah binaan. Hal tersebut dilakukan Muhamad Nuh, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja, melalui kunjungan dan silaturahmi dengan sejumlah perangkat Desa Sokaraja Kidul, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Rabu (30/09)
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat integritas, komitmen, dan sinergi dalam pengumpulan serta pemutakhiran data penduduk berdasarkan pemeluk agama di wilayah binaan. Data yang akurat dinilai penting sebagai pijakan dalam merancang pembinaan keagamaan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Muhamad Nuh, berdiskusi bersama beberapa perangkat desa mengenai kondisi sosial-keagamaan masyarakat Sokaraja Kidul sekaligus perkembangan sejumlah program pembinaan yang telah berjalan.
Salah satu perhatian utama adalah keberadaan majelis taklim yang diharapkan tidak hanya menjadi tempat kegiatan keagamaan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Generasi muda, khususnya Karang Taruna, didorong untuk ikut mengambil peran bersama tokoh agama, pemerintah desa, serta berbagai elemen masyarakat.
“Pembinaan masyarakat tidak cukup hanya dilakukan dari satu sisi. Ketika pemerintah desa, penyuluh, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat berjalan bersama, program keagamaan akan lebih hidup dan memiliki dampak yang lebih luas,” menjadi semangat yang dibangun dalam silaturahmi tersebut.
Desa Sokaraja Kidul memiliki karakteristik masyarakat yang beragam. Dalam konteks wilayah Kecamatan Sokaraja, desa ini menjadi salah satu wilayah yang memiliki keberagaman pemeluk agama yang cukup lengkap. Keberagaman tersebut menjadi modal sosial untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan.
Sebagai Desa Pancasila, keberagaman Sokaraja Kidul menjadi ruang pembelajaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Justru dari keberagaman dapat tumbuh kerja sama, gotong royong, dan kepedulian untuk membangun desa.
Bagi Penyuluh Agama Islam, pendataan bukan sekadar mencatat angka. Data menjadi pintu untuk mengenali masyarakat, memahami kebutuhan pembinaan, dan memastikan pelayanan keagamaan hadir secara tepat dan berkeadilan.
Melalui silaturahmi tersebut, Muhamad Nuh, menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dengan pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat. Integritas dalam menjalankan tugas dipadukan dengan semangat pemberdayaan agar program keagamaan dapat terus tumbuh dari masyarakat dan kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
