HUT RI #81

Suami Istri Saling Menguatkan Adalah Harapan KUA Jatilawang Dalam Bimwin

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang memilih untuk berjalan dalam satu arah. Bukan berarti setiap langkah akan selalu mudah, bukan pula berarti setiap hari akan dipenuhi tawa. Akan ada saat ketika kehidupan terasa ringan, tetapi akan ada pula masa ketika salah satu harus menjadi tempat bersandar bagi yang lainnya. Jumat (02/10)

Pesan tersebut disampaikan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Robby Anu Imam Manziz dan Nofita Apriliana dengan materi “Suami Istri Saling Menguatkan.”

Dalam bimbingannya, Rais Rudiansyah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehidupan rumah tangga tidak dibangun hanya dengan rasa cinta. Pernikahan membutuhkan kesediaan untuk saling memahami, menghargai, mendengarkan, dan menguatkan ketika pasangan sedang menghadapi persoalan.

Menurutnya, suami dan istri bukanlah dua orang yang berlomba menjadi paling kuat. Keduanya justru harus menjadi tempat untuk saling menguatkan. Ketika suami sedang lelah, istri hadir memberi ketenangan. Ketika istri sedang rapuh, suami hadir memberikan keyakinan bahwa ia tidak sendirian.

“Rumah tangga yang kuat bukan rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah tangga yang kuat adalah rumah yang ketika masalah datang, suami dan istri memilih untuk duduk bersama, mencari jalan keluar, dan tidak saling meninggalkan,” tutur Rais Rudiansyah.

Ia menjelaskan bahwa kehidupan setelah pernikahan akan mempertemukan pasangan dengan berbagai keadaan. Ada persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, tanggung jawab pekerjaan, hubungan dengan keluarga besar, hingga berbagai tantangan dalam mendidik anak. Semua itu membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik.

Karena itu, suami dan istri perlu membangun kebiasaan untuk berbicara dari hati ke hati. Jangan menunggu persoalan menjadi besar baru kemudian mencari jalan keluar. Jangan pula membiarkan pasangan berjuang sendirian hanya karena merasa masalah tersebut bukan tanggung jawab bersama.

Rais Rudiansyah juga mengingatkan bahwa bentuk dukungan kepada pasangan tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah kalimat sederhana mampu menguatkan hati yang sedang lelah.

“Aku tahu kamu sedang lelah. Istirahatlah, biar aku yang menemani.”

Atau,

“Tidak apa-apa kalau hari ini belum berhasil. Kita coba lagi bersama.”

Kalimat-kalimat sederhana tersebut mungkin tidak bernilai secara materi, tetapi bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, perhatian semacam itu dapat menjadi alasan untuk kembali bangkit.

Menurut Rais Rudiansyah, pasangan suami istri juga perlu menghindari kebiasaan saling membandingkan. Setiap keluarga memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang cepat memperoleh keberhasilan, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang hidup dalam kelapangan, ada pula yang harus memulai dari kesederhanaan.

Yang terpenting adalah bagaimana pasangan tetap berjalan bersama dan tidak kehilangan rasa syukur.

Bimwin tersebut menjadi bekal bagi Robby dan Nofita untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang menikmati hari-hari bahagia, tetapi juga tentang mempersiapkan hati menghadapi hari-hari yang tidak mudah.

Sebab kelak, setelah akad selesai dan para tamu meninggalkan tempat acara, kehidupan nyata akan dimulai. Akan ada pagi ketika salah satu bangun dengan tubuh yang lelah. Akan ada malam ketika persoalan membuat hati gelisah. Akan ada masa ketika rezeki terasa lapang, tetapi mungkin ada pula waktu ketika kebutuhan lebih besar daripada kemampuan.

Pada saat itulah arti “saling menguatkan” menjadi nyata.

Bukan sekadar berkata “Aku mencintaimu”, tetapi mampu berkata, “Aku tetap di sini ketika keadaan sedang sulit.”

Bukan sekadar berbagi kebahagiaan, tetapi juga bersedia berbagi beban.

Bukan hanya menggenggam tangan pasangan ketika berjalan di atas jalan yang indah, tetapi tetap menggenggamnya ketika jalan itu dipenuhi batu dan air mata.

Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang bagaimana dua hati dapat saling menjadi kekuatan.

Mungkin suatu hari rambut mulai memutih. Langkah tak lagi secepat dahulu. Anak-anak telah tumbuh dan memilih jalan hidupnya masing-masing. Rumah yang dulu ramai perlahan menjadi sunyi.

Pada saat itu, mungkin yang paling indah bukanlah berapa banyak harta yang pernah dikumpulkan, melainkan ketika suami dan istri masih dapat duduk berdampingan dan mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui.

“Ternyata kita sudah sejauh ini. Terima kasih karena ketika aku hampir menyerah, engkau tetap menggenggam tanganku.”

Dan itulah rumah yang sesungguhnya—tempat dua manusia tidak harus selalu kuat sendirian, karena ketika salah satunya jatuh, selalu ada tangan yang mengulurkan diri dan berkata dengan lembut, “Bangunlah, kita lanjutkan perjalanan ini bersama.”