HUT RI #81

Bimluh Penyuluh KUA Jatilawang : Ketika Dunia Menjauh, Allah Tak Pernah Meninggalkan Kita

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
07 Okt 2026
6x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 07-10-2026 15:33
SHARE

Banyumas — Ada masa ketika seseorang merasa dunia tiba-tiba menjadi begitu sunyi. Orang-orang yang dahulu dekat perlahan menjauh, sahabat yang diharapkan hadir justru menghilang, sementara berbagai persoalan datang silih berganti seolah tidak memberi kesempatan untuk menarik napas. Rabu (07/10)

Namun, di tengah kesunyian itu, ada satu tempat untuk kembali. Ada satu Dzat yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dialah Allah SWT.

Pesan penuh keteduhan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan Agama kepada jamaah Masjid At Taqwa, dengan mengangkat tema “Ketika Dunia Menjauh, Allah Tak Pernah Meninggalkan Kita.”

Dalam penyuluhannya, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk melihat berbagai persoalan kehidupan dengan kacamata keimanan. Menurutnya, tidak semua kehilangan merupakan pertanda bahwa Allah sedang menjauh. Terkadang, justru melalui kehilangan, Allah sedang mengajarkan manusia untuk berhenti menggantungkan harapan kepada selain-Nya.

“Jangan merasa sendirian ketika manusia meninggalkan kita. Bisa jadi, pada saat itulah Allah sedang mengundang kita untuk lebih dekat kepada-Nya,” pesan Muhammad Taubah dengan penuh ketenangan.

Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali mencari ketenangan kepada banyak pintu, tetapi lupa mengetuk pintu yang tidak pernah tertutup. Ketika hati terluka, manusia mencari tempat bercerita. Ketika kecewa, manusia mencari seseorang untuk menguatkan. Namun ketika semua itu tidak ditemukan, Allah tetap membuka pintu-Nya melalui doa, sujud, istighfar, dan munajat di sepertiga malam.

Dalam suasana penyuluhan yang penuh keakraban, jamaah diajak memahami bahwa ujian bukan selalu tanda kemurkaan Allah. Bisa jadi, kesulitan merupakan cara Allah membersihkan hati, meninggikan derajat, menghapus dosa, sekaligus mengembalikan seorang hamba kepada jalan yang benar.

Muhammad Taubah juga mengajak jamaah untuk tidak berputus asa ketika doa belum menemukan jawaban sebagaimana yang diharapkan. Sebab, Allah tidak pernah terlambat. Manusia hanya sering terburu-buru dalam menilai takdir. Ada doa yang dikabulkan dengan segera. Ada yang ditunda hingga waktu yang paling tepat. Ada pula doa yang Allah jawab dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia.

“Jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari apa yang kita dapatkan. Kadang-kadang, sesuatu yang tidak Allah berikan justru merupakan bentuk kasih sayang-Nya yang paling besar,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi renungan mendalam bagi jamaah. Sebab dalam perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah merasakan kehilangan, kekecewaan, kegagalan, bahkan kesendirian. Ada yang tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi menyimpan air mata ketika seorang diri. Ada yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras agar hatinya tidak runtuh. Di situlah keimanan menemukan maknanya.

Ketika semua pintu manusia tertutup, pintu Allah tetap terbuka. Ketika tidak ada lagi tempat untuk bersandar, Allah tetap menjadi tempat berserah. Ketika tidak ada satu pun manusia yang memahami air mata kita, Allah mengetahui bahkan doa yang belum sempat terucapkan oleh bibir.

Penyuluhan tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan kembali harapan jamaah. Bahwa kehidupan tidak selalu harus dipahami dari apa yang hilang, tetapi juga dari apa yang sedang Allah siapkan.

Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk memperbanyak doa, memperkuat ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, manusia boleh pergi. Harta boleh berkurang. Jabatan boleh berakhir. Sahabat bisa berubah. Bahkan orang yang paling kita cintai pun suatu saat akan meninggalkan kita. Tetapi Allah tidak pernah pergi. Dia tetap ada ketika kita menangis dalam diam. Dia tetap mendengar ketika doa hanya berbisik di dalam hati. Dan Dia tetap membuka pintu ampunan, bahkan ketika seorang hamba merasa dirinya terlalu jauh untuk kembali.

Mungkin dunia sedang menjauh dari kita. Namun jangan pernah takut. Selama Allah masih menjadi tempat kita bersandar, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar sendirian. Dari Masjid At Taqwa, pesan itu pulang bersama jamaah: jangan takut kehilangan dunia, tetapi takutlah kehilangan Allah. Sebab ketika Allah bersama kita, tidak ada kesendirian yang benar-benar sepi dan tidak ada ujian yang benar-benar tanpa jalan keluar.