Hadirkan Rasa Aman Dalam Hubungan Suami Istri
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar tentang menemukan seseorang untuk dicintai, tetapi tentang belajar menjadi seseorang yang membuat pasangannya merasa aman untuk mencintai. Rumah tangga yang bahagia tidak selalu dibangun oleh kemewahan, melainkan oleh kehadiran yang menenangkan, ucapan yang tidak melukai, dan hati yang bersedia menjadi tempat pulang. Pesan itulah yang disampaikan Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, ketika memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Riski Yuriska Putra dan Yuliana Mu’minah dengan materi “Membuat Pasangan Menjadi Nyaman.” Jumat (14/08)
Dalam suasana bimbingan yang hangat dan komunikatif, Muhammad Asyhadi mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kenyamanan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan rumah tangga. Kenyamanan tidak lahir dari pasangan yang selalu sempurna, tetapi dari sikap saling menghargai, mau mendengarkan, menjaga perasaan, serta menghadirkan rasa aman dalam hubungan.
Menurut Muhammad Asyhadi, rumah seharusnya menjadi tempat seseorang melepaskan lelah, bukan tempat menambah luka. Suami dan istri perlu membangun suasana yang membuat masing-masing merasa diterima sebagai dirinya sendiri, sekaligus tetap saling mengajak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jadilah pasangan yang membuat rumah terasa seperti tempat pulang, bukan tempat yang membuat seseorang ingin pergi,” pesan Muhammad Asyhadi.
Kalimat tersebut sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab seseorang mungkin mampu menghadapi kerasnya kehidupan di luar rumah, tetapi akan terasa jauh lebih berat apabila ketika pulang ia justru tidak menemukan ketenangan. Sebaliknya, satu senyum, satu pelukan, atau satu kalimat sederhana—“Tidak apa-apa, kita hadapi bersama”—dapat menjadi kekuatan besar bagi pasangan yang sedang berada dalam kesulitan.
Muhammad Asyhadi juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang sehat. Ketika muncul persoalan, suami dan istri hendaknya tidak terburu-buru meninggikan suara atau saling menyalahkan. Perbedaan sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin, karena dalam rumah tangga yang dicari bukan kemenangan salah satu pihak, melainkan kebaikan bersama.
Ada kalanya seorang istri tidak membutuhkan nasihat panjang, melainkan seseorang yang mau mendengarkan. Ada pula saat seorang suami tampak kuat di hadapan banyak orang, tetapi sebenarnya menyimpan lelah yang hanya ingin ia bagi kepada orang yang paling dipercayainya.
Di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling dalam: menjadi tempat seseorang tidak perlu berpura-pura kuat.
Bimbingan Perkawinan tersebut menjadi bekal bagi Riski Yuriska Putra dan Yuliana Mu’minah agar mampu mempersiapkan kehidupan rumah tangga dengan lebih matang. Keduanya diajak memahami bahwa menjadi suami dan istri bukan hanya tentang berbagi tempat tinggal, tetapi juga berbagi tanggung jawab, harapan, kecemasan, kebahagiaan, dan doa.
Sebab setelah akad terucap, pesta selesai, dan para tamu pulang, kehidupan yang sesungguhnya akan dimulai. Akan ada hari-hari penuh tawa, tetapi mungkin juga ada malam ketika persoalan membuat dada terasa sesak. Akan ada perbedaan kebiasaan, persoalan ekonomi, kelelahan, serta berbagai ujian yang tidak selalu dapat diprediksi.
Pada saat seperti itu, semoga Riski dan Yuliana tidak lupa bahwa pasangan bukanlah lawan yang harus dikalahkan. Pasangan adalah teman seperjalanan yang harus dijaga agar keduanya dapat sampai bersama.
Semoga Bimbingan Perkawinan yang disampaikan Muhammad Asyhadi menjadi bekal yang menetap dalam hati Riski Yuriska Putra dan Yuliana Mu’minah. Semoga keduanya mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah—rumah yang menghadirkan ketenteraman, cinta yang tumbuh dalam kesetiaan, dan kasih sayang yang tidak mudah padam oleh keadaan.
Kelak, ketika usia telah berjalan jauh, rambut mulai memutih, dan tubuh tidak lagi sekuat hari ini, semoga mereka masih dapat duduk berdampingan. Mengenang hari-hari ketika kehidupan terasa berat, ketika air mata pernah jatuh, ketika kesalahpahaman pernah hadir, tetapi mereka memilih untuk tetap saling menggenggam.
Mungkin saat itu mereka akan mengerti bahwa kebahagiaan terbesar dalam pernikahan bukanlah memiliki pasangan yang selalu sempurna.
Kebahagiaan terbesar adalah memiliki seseorang yang membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri, nyaman untuk bercerita, tenang untuk menangis, dan yakin bahwa ketika dunia terasa berat, masih ada satu hati yang berkata, “Pulanglah, aku masih di sini.”
Semoga Riski dan Yuliana menjadi pasangan yang tidak hanya saling mencintai, tetapi juga saling menenangkan; tidak hanya saling memiliki, tetapi juga saling menjaga; tidak hanya bersama ketika bahagia, tetapi tetap bergandengan tangan ketika kehidupan mengajarkan arti perjuangan.
Karena pada akhirnya, rumah tangga yang paling indah bukanlah rumah yang tanpa masalah, melainkan rumah yang selalu memiliki dua hati yang bersedia kembali berdamai setelah badai berlalu.
