HUT RI #81

Jangan Pernah Memberi Ruang bagi Kekerasan dalam Rumah Tangga, Bimwin KUA Jatilawang Kepada Catin

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
13 Okt 2026
11x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 13-10-2026 15:48
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua insan dalam ikatan yang sah, melainkan janji panjang untuk saling menjaga, menghormati, dan menguatkan hingga usia memisahkan. Di dalam rumah tangga, cinta semestinya menjadi tempat paling aman untuk pulang, bukan sumber ketakutan yang membuat seseorang kehilangan air mata dalam diam. Selasa (13/10)

Pesan mendalam itulah yang disampaikan Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang, saat memberikan nasihat dan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan pengantin, Maftuhali dan Riska Pradina. Dalam bimbingan tersebut, ia menekankan pentingnya membangun rumah tangga yang harmonis, penuh kasih sayang, serta bebas dari segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurut Ulul Albab, kehidupan setelah pernikahan tidak selalu berjalan di atas jalan yang rata. Ada kalanya suami pulang dengan tubuh lelah, istri menghadapi persoalan yang menguras pikiran, kebutuhan ekonomi menuntut perhatian, atau perbedaan pendapat tumbuh menjadi perselisihan. Namun, sesulit apa pun persoalan yang datang, kekerasan tidak boleh menjadi jalan keluar.

“Rumah tangga bukan tempat seseorang melampiaskan amarah, melainkan tempat dua hati belajar memahami. Jangan sampai tangan yang seharusnya menggenggam justru menyakiti, dan jangan sampai lisan yang seharusnya menenangkan berubah menjadi sumber luka,” demikian pesan yang ditekankan dalam bimbingan tersebut.

Ketika Cinta Harus Dibuktikan dengan Sikap

Ulul Albab mengingatkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berbentuk pukulan atau tindakan fisik. Bentakan yang merendahkan, hinaan yang berulang, ancaman, intimidasi, pengendalian berlebihan, serta tindakan yang melukai kondisi psikologis pasangan juga dapat menjadi bentuk kekerasan. Kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga pun tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.

Karena itu, Maftuhali dan Riska Pradina diajak untuk memahami bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana keduanya mampu berjalan berdampingan. Suami bukan penguasa yang berhak merendahkan istrinya, sementara istri bukan seseorang yang harus menerima perlakuan menyakitkan atas nama kesabaran. Keduanya adalah pasangan yang memiliki martabat, hak, dan tanggung jawab untuk saling menghormati.

Dalam kehidupan sehari-hari, pertengkaran mungkin tidak selalu dapat dihindari. Akan tetapi, setiap persoalan perlu diselesaikan dengan kepala dingin, komunikasi yang baik, dan kesediaan mendengarkan. Ketika emosi memuncak, mengambil jeda untuk menenangkan diri jauh lebih bijaksana daripada mengucapkan kata-kata yang melukai atau melakukan tindakan yang disesali kemudian.

Sebab, ada luka yang tidak meninggalkan bekas pada kulit, tetapi menetap begitu lama di dalam hati. Ada pula anak-anak yang tidak memahami persoalan orang tuanya, tetapi diam-diam menyimpan ketakutan setiap kali suara pertengkaran memenuhi rumah.

Dalam bimbingannya, Ulul Albab juga mengingatkan bahwa keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami persoalan. Keluarga sakinah adalah keluarga yang berusaha menghadapi persoalan tanpa kehilangan rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab satu sama lain.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum ayat 21, tentang penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta dijadikannya kasih sayang dan rahmat di antara mereka.

Nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah hendaknya tidak berhenti sebagai doa yang diucapkan saat pernikahan. Nilai-nilai itu perlu hadir dalam tindakan nyata: dalam cara berbicara, mengambil keputusan, mengelola keuangan, membagi tanggung jawab, menghormati keluarga pasangan, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Maftuhali dan Riska Pradina diharapkan mampu menjadikan komunikasi sebagai jembatan ketika perbedaan muncul. Tidak perlu saling mengalahkan untuk membuktikan siapa yang benar. Adakalanya cinta justru terlihat ketika seseorang bersedia menurunkan ego, mendengarkan keluh kesah pasangannya, dan mengakui kekeliruan tanpa mencari-cari alasan.

Sebab, kemenangan terbesar dalam rumah tangga bukanlah keberhasilan menundukkan pasangan, melainkan keberhasilan menjaga agar keduanya tetap merasa dihargai.

Lebih jauh, Ulul Albab mengajak pasangan pengantin untuk memikirkan masa depan keluarga yang akan mereka bangun. Rumah tangga bukan hanya tentang kebahagiaan suami dan istri, tetapi juga tentang lingkungan tempat anak-anak kelak belajar mengenal cinta, menghargai orang lain, dan memahami arti keluarga.

Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang didengarnya, tetapi juga dari perilaku yang dilihatnya setiap hari. Ketika orang tua menyelesaikan perbedaan dengan santun, anak belajar tentang kedewasaan. Ketika orang tua saling menghormati, anak belajar tentang martabat manusia. Sebaliknya, jika kekerasan terus hadir di rumah, anak dapat tumbuh dengan menyimpan ketakutan dan membawa luka yang tidak mudah diceritakan.

“Jangan sampai rumah yang dibangun dengan doa justru menjadi tempat tumbuhnya ketakutan. Jadikan rumah sebagai tempat anak belajar bahwa cinta tidak menyakiti, perbedaan tidak harus berakhir dengan pertengkaran, dan kekuatan seseorang terlihat dari kemampuannya menjaga, bukan melukai,” menjadi pesan penting dalam membangun keluarga yang sehat.

Bimbingan Perkawinan ini menjadi pengingat bahwa membangun keluarga membutuhkan ilmu, kesabaran, komitmen, dan kemauan untuk terus belajar. Cinta yang tulus tidak cukup hanya diucapkan; ia harus dibuktikan melalui perilaku yang aman, adil, dan bertanggung jawab.

Apabila persoalan rumah tangga terasa semakin berat, pasangan dianjurkan mencari bantuan melalui konseling atau pihak profesional yang kompeten. Jika kekerasan terjadi, keselamatan korban harus menjadi prioritas. Korban tidak wajib bertahan dalam situasi berbahaya demi mempertahankan citra keluarga, dan meminta pertolongan bukanlah tanda kegagalan dalam berumah tangga.

Ulul Albab berharap Maftuhali dan Riska Pradina mampu menjadikan nasihat tersebut sebagai bekal untuk menapaki kehidupan bersama. Semoga keduanya tumbuh menjadi pasangan yang bukan hanya kuat menghadapi ujian, tetapi juga lembut dalam memperlakukan satu sama lain.

Pada akhirnya, pernikahan yang indah bukanlah pernikahan yang hanya tampak bahagia di hadapan orang lain. Pernikahan yang indah adalah ketika suami dan istri merasa aman di dalam rumahnya sendiri; ketika air mata disambut dengan pelukan, kesalahan diperbaiki dengan kejujuran, dan perbedaan diselesaikan tanpa ancaman maupun kekerasan.

Sebab, cinta sejati tidak pernah meminta seseorang terluka agar orang lain merasa berkuasa. Cinta sejati justru mengajarkan dua manusia untuk saling menjaga, agar rumah yang mereka bangun menjadi tempat paling teduh bagi hati yang ingin pulang.