HUT RI #81

Menyemai Harapan di Balik Jeruji, Penyuluh KUA Sokaraja Gelar Prosesi Khotmil Quran bagi Warga Binaan Lapas IIA Purwokerto

KUA Sokaraja
KUA Sokaraja
13 Okt 2026
8x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 13-10-2026 16:48
SHARE

Purwokerto — Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema penuh kekhusyukan dalam prosesi Khotmil Qur’an yang diikuti warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto. Kegiatan keagamaan yang menghadirkan Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Sokaraja ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran spiritual, membangun optimisme, serta membuka lembaran baru kehidupan melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Selasa (13/10)

Dua Penyuluh Agama Islam, Akhmad Arifudin, dan Faidussa’ad, hadir sebagai penyuluh sekaligus pemateri dalam kegiatan tersebut. Keduanya memberikan penguatan keagamaan dengan menempatkan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang ditamatkan, melainkan pedoman hidup yang mampu mengubah cara berpikir, membentuk akhlak, dan menuntun seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.

Prosesi Khotmil Qur’an ini membawa pesan mendalam bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Masa lalu tidak seharusnya menjadi tembok yang menghalangi seseorang untuk bertobat, belajar, dan menata masa depan. Sebaliknya, pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran berharga untuk melangkah menuju perubahan yang lebih bermakna.

Dalam pembinaan keagamaan, warga binaan diajak memahami bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Membaca, memahami, dan mengamalkan kandungannya merupakan bagian dari ikhtiar membangun pribadi yang lebih sabar, jujur, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Pesan motivasi tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini mengandung pesan universal bahwa pintu rahmat dan ampunan Allah senantiasa terbuka bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan membuktikan perubahan melalui amal kebaikan.

Bagi warga binaan, pesan tersebut menjadi sumber kekuatan untuk menumbuhkan harapan. Keterbatasan ruang gerak tidak harus membatasi pertumbuhan iman, keluasan ilmu, maupun tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kegiatan Khotmil Qur’an juga relevan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat tersebut menegaskan pentingnya ikhtiar dan kesungguhan dalam melakukan perubahan. Perubahan hidup tidak cukup berhenti pada penyesalan, tetapi harus dilanjutkan dengan komitmen untuk memperbaiki perilaku, menjaga ibadah, meningkatkan pengetahuan, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan masyarakat.

Melalui pendampingan penyuluh agama, warga binaan diharapkan semakin termotivasi untuk menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan memperdalam agama, mengevaluasi perjalanan hidup, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai kebaikan.

Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir dalam perjalanan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Justru, khatam menjadi awal untuk semakin memahami, menghayati, dan mengamalkan pesan-pesan ilahi dalam kehidupan nyata.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut memberikan motivasi bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kedudukan sosial atau perjalanan masa lalu seseorang, melainkan juga dari kesungguhan dalam belajar dan menebarkan kebaikan. Semangat mempelajari Al-Qur’an diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang terus terpelihara, bahkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya.

Peran Penyuluh Agama Islam dalam kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan dakwah yang merangkul, membimbing, dan menguatkan. Pendekatan keagamaan tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada tumbuhnya kesadaran batin, keteguhan moral, dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab.

Kegiatan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan memiliki arti penting dalam mendukung pembinaan kepribadian warga binaan. Nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi bekal untuk mengelola emosi, memperkuat kesabaran, membangun kedisiplinan, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja juga mencerminkan pentingnya sinergi dakwah dengan pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Melalui bimbingan yang berkesinambungan, kegiatan keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi berkembang menjadi proses pembentukan karakter yang nyata dan berkelanjutan.

Dari balik jeruji, pesan Al-Qur’an mengajarkan bahwa harapan tidak pernah kehilangan tempatnya. Seseorang mungkin pernah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tersebut tidak harus menjadi keseluruhan identitas dirinya. Dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, pembinaan yang konsisten, dan dukungan lingkungan yang positif, perubahan menuju kehidupan yang lebih baik tetap terbuka.

Prosesi Khotmil Qur’an warga binaan Lapas IIA Purwokerto menjadi pengingat bahwa cahaya Al-Qur’an dapat menyentuh setiap ruang kehidupan, termasuk tempat-tempat yang sering dipandang sebagai simbol keterbatasan. Di tempat inilah nilai kesabaran, pengampunan, tanggung jawab, dan harapan menemukan makna yang mendalam.

Pesan yang hendak diteguhkan bukanlah bahwa masa lalu dapat dihapus begitu saja, melainkan bahwa masa depan masih dapat diperjuangkan melalui perubahan yang nyata. Setiap ayat yang dibaca diharapkan menjadi pengingat, setiap doa menjadi penguat, dan setiap langkah kebaikan menjadi bukti kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Sebab, khatam Al-Qur’an bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan, melainkan tentang memulai perjalanan baru untuk menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan. Dari balik jeruji, tumbuh harapan; dari kesadaran, lahir perubahan; dan dari bimbingan Al-Qur’an, terbuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja — Menguatkan iman, menumbuhkan harapan, dan mendampingi perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna.