Merawat Ridha, Menjaga Cinta, Bekal Meniti Bahtera Rumah Tangga
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas - Membangun rumah tangga bukan hanya tentang menyatukan dua insan, tetapi juga belajar menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Pesan tersebut menjadi salah satu materi dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan oleh Dedy Purwanto, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada pasangan calon pengantin Sahrir Walromadon asal Purbalingga dan Jeni Febriani asal Desa Karanglewas, Kecamatan Jatilawang. Senin (05/10)
Kegiatan Bimwin dilaksanakan di Balai Nikah KUA Jatilawang sebagai bagian dari pembekalan bagi calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Suasana bimbingan berlangsung hangat dan penuh keceriaan, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dalam suasana yang akrab dan nyaman.
Dalam bimbingannya, Dedy menekankan pentingnya saling ridha antara suami dan istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Menurutnya, pasangan perlu belajar menerima kondisi masing-masing dengan lapang dada, karena tidak ada manusia yang sempurna.
Dedy mengingatkan agar kekurangan yang terdapat pada diri masing-masing pasangan tidak dijadikan sumber konflik berkepanjangan. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan dapat melahirkan kekecewaan apabila kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
“Dalam rumah tangga, jangan hanya melihat apa yang kurang dari pasangan. Belajarlah untuk saling ridha dan menerima. Ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa diiringi kemampuan menerima kenyataan justru dapat menjadi sumber kekecewaan dan konflik,” pesan Dedy.
Selain membahas kesiapan mental dalam membangun rumah tangga, Bimwin juga membekali pasangan calon pengantin dengan pengetahuan mengenai pentingnya pemenuhan gizi ketika kelak dikaruniai anak. Perhatian terhadap kesehatan dan gizi anak, menurut Dedy, perlu dimulai sejak masa kehamilan.
Calon orang tua diingatkan agar memperhatikan kebutuhan gizi ibu selama kehamilan sebagai salah satu bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak. Persiapan menjadi orang tua bukan hanya dilakukan setelah anak lahir, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan agar risiko gangguan pertumbuhan, termasuk stunting, dapat dicegah.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa Bimbingan Perkawinan tidak hanya berorientasi pada kesiapan pasangan untuk menjadi suami dan istri, tetapi juga mempersiapkan mereka menjadi orang tua yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang generasi yang akan dilahirkan.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan suasana penuh keakraban. Keceriaan yang tercipta selama bimbingan membuat pasangan calon pengantin dapat mengikuti materi dengan santai sekaligus serius dalam memahami berbagai bekal kehidupan rumah tangga.
Melalui kegiatan Bimwin tersebut, KUA Jatilawang terus berupaya membekali calon pengantin agar memiliki kesiapan dalam membangun keluarga yang harmonis, sehat, dan penuh tanggung jawab. Saling ridha menjadi pintu untuk menerima, komunikasi menjadi jembatan untuk memahami, dan kepedulian menjadi bekal untuk menumbuhkan generasi yang sehat. (dy)
