Pangkas Stigma Era Digital, Penyuluh Agama dan Petani Muda Sokaraja Suarakan Potensi Bisnis Pertanian
Oleh KUA Sokaraja
SOKARAJA, 28 September 2026 — Minat generasi muda terhadap sektor pertanian dinilai kian merosot di tengah gempuran arus digitalisasi. Menjawab tantangan tersebut, Penyuluh Agama Kecamatan Sokaraja, Suroso, menggelar diskusi interaktif bersama seorang petani muda setempat, Herman, pada Minggu (27/9/2026) untuk membahas strategi revitalisasi pertanian di kalangan pemuda.
Diskusi yang berlangsung hangat di Sokaraja ini menyoroti pergeseran pandangan anak muda yang cenderung memilih pekerjaan di sektor formal atau industri digital, ketimbang mengolah lahan. Padahal, sektor pertanian menyimpan potensi ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan pendekatan modern dan profesional.
Herman mengungkapkan bahwa persepsi keliru mengenai profesi petani harus segera diubah. Menurutnya, era digital seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai alat pendukung modernisasi pertanian, bukan alasan untuk meninggalkan sektor pangan.
"Anak muda zaman sekarang sudah mulai tidak tertarik dengan tani karena dianggap sudah zaman digital. Padahal, menjadi petani sebenarnya bisa menghasilkan untung besar apabila dikelola dengan benar," tegas Herman di sela-sela diskusi.
Ia menuturkan, kunci sukses pertanian masa kini terletak pada tata kelola yang terencana, mulai dari pemanfaatan teknologi tepat guna, efisiensi rantai pasok, hingga strategi pemasaran digital. Atas dasar itu, Herman secara terbuka mengajak para pemuda daerah untuk kembali melirik tanah kelahiran dan belajar bertani secara profesional.
Sementara itu, Suroso menekankan pentingnya kolaborasi antara kemandirian ekonomi dan nilai-nilai keagamaan. Menurut Suroso, bertani tidak hanya sebatas aktivitas ekonomi, melainkan juga bentuk ibadah dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat serta memakmurkan bumi.
"Penyuluhan agama tidak hanya menyentuh aspek spiritual di dalam rumah ibadah, tetapi juga membangun kemandirian dan kesejahteraan umat di lapangan. Kami siap mendampingi para pemuda agar memiliki etika kerja yang kuat, semangat pantang menyerah, dan kesadaran akan pentingnya menjaga kedaulatan pangan," jelas Suroso.
Melalui diskusi ini, keduanya sepakat untuk menginisiasi wadah edukasi dan pelatihan bertani bagi pemuda di Sokaraja. Gerakan ini diharapkan mampu mencetak generasi agropreneur baru yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian desa secara berkelanjutan.(tum)
