Penyuluh KUA Jatilawang Ajak Merenung : Hidup Hanya Sebentar, Mengapa Kita Masih Saling Menyakiti?
Banyumas — Hidup manusia sesungguhnya begitu singkat. Hari-hari yang terasa panjang ternyata berlalu tanpa terasa. Rambut yang dahulu hitam perlahan memutih, langkah yang dulu kuat mulai melemah, dan wajah yang pernah begitu muda akhirnya menyimpan jejak perjalanan waktu. Rabu (07/10)
Namun di tengah hidup yang singkat itu, masih banyak manusia yang memilih menyimpan dendam, memperpanjang pertengkaran, saling menyakiti, bahkan memutus tali persaudaraan hanya karena persoalan yang mungkin kelak tidak lagi berarti.
Renungan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan Agama bersama jamaah Masjid Baiturrohim, dengan mengangkat tema “Hidup Hanya Sebentar, Mengapa Kita Masih Saling Menyakiti?”
Dalam penyuluhannya, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk kembali melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih dalam. Menurutnya, manusia sering kali lupa bahwa setiap perjumpaan memiliki batas waktu. Orang yang hari ini duduk bersama, bercanda, dan berbicara mungkin suatu saat hanya akan menjadi nama yang dikenang dalam doa.
“Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan ego, sampai lupa bahwa orang yang sedang kita marahi mungkin tidak akan selamanya berada di samping kita,” ungkap Muhammad Taubah.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang menang dalam sebuah pertengkaran. Bukan pula tentang siapa yang paling keras suaranya, paling tinggi gengsinya, atau paling lama mampu mempertahankan kemarahan.
Hidup adalah perjalanan menuju sebuah kepulangan.
Dalam perjalanan tersebut, manusia semestinya memperbanyak kasih sayang, bukan memperpanjang permusuhan; memperbanyak maaf, bukan mengumpulkan dendam; serta mempererat persaudaraan, bukan mencari alasan untuk saling menjauh.
Muhammad Taubah menjelaskan bahwa salah satu penyakit manusia adalah merasa memiliki banyak waktu. Karena merasa masih memiliki hari esok, seseorang menunda meminta maaf. Karena merasa masih ada kesempatan, seseorang membiarkan orang tua menunggu. Karena merasa masih akan bertemu lagi, seseorang pergi meninggalkan luka tanpa sempat berkata, “Maafkan aku.” Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah esok masih menjadi miliknya.
Kematian tidak selalu datang setelah seseorang menyelesaikan semua urusan. Ia bisa datang ketika seseorang masih memiliki janji yang belum ditepati, kata maaf yang belum terucap, dan pelukan yang belum sempat diberikan. Karena itu, jamaah diajak untuk tidak membiarkan persoalan kecil berubah menjadi luka yang panjang.
“Kalau kita tahu bahwa hidup ini sebentar, mengapa harus menghabiskan waktu untuk membenci? Kalau kita tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja, mengapa masih berat mengucapkan maaf?” pesan Muhammad Taubah.
Ia juga mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah cara seorang manusia membebaskan hatinya dari beban kebencian.
Ada luka yang tidak bisa dihapus dari ingatan, tetapi bisa dilepaskan dari hati. Ada kesalahan yang tidak bisa diubah, tetapi bisa dijadikan pelajaran. Dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang, tetapi masih bisa ditutup dengan sebuah kata sederhana: “Aku memaafkanmu.”
Penyuluhan tersebut menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, sahabat, dan sesama. Sebab sering kali orang yang paling dekat dengan kita justru menjadi orang yang paling mudah kita sakiti.
Kepada pasangan, kita terkadang berbicara tanpa menjaga perasaan. Kepada anak, kita mudah marah karena lupa bahwa mereka sedang belajar. Kepada orang tua, kita terkadang merasa terganggu oleh nasihat yang sebenarnya lahir dari kasih sayang.
Padahal, suatu hari nanti, rumah mungkin masih berdiri, tetapi suara mereka tidak lagi terdengar. Kursi masih berada di tempatnya, tetapi orang yang biasa duduk di sana telah kembali kepada Allah SWT. Dan saat itulah manusia baru menyadari bahwa waktu ternyata jauh lebih mahal daripada harta.
Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk mulai membangun kebiasaan sederhana: segera meminta maaf ketika bersalah, segera memaafkan ketika disakiti, menjaga lisan, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, dan tidak menunda kebaikan.
Sebab kebaikan yang ditunda bisa kehilangan kesempatan, sementara permusuhan yang dipelihara dapat berubah menjadi penyesalan.
Di penghujung penyuluhan, pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi menyentuh kedalaman hati: hidup hanya sebentar. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Kelak kita akan meninggalkannya tanpa membawa apa-apa pula, kecuali amal yang telah kita tanam. Maka untuk apa saling menyakiti? Untuk apa mempertahankan dendam bertahun-tahun? Untuk apa membiarkan orang yang kita cintai pergi tidur dengan membawa luka karena ucapan kita? Bukankah pada akhirnya kita semua akan menjadi kenangan?
Mungkin hari ini kita masih bisa bertemu. Masih bisa berjabat tangan. Masih bisa meminta maaf. Masih bisa mengatakan, “Aku sayang kepadamu.” Jangan menunggu esok, sebab belum tentu kita memilikinya. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kebencian. Hati terlalu berharga untuk dipenuhi dendam. Dan kematian terlalu dekat untuk membuat kita terus menunda kata maaf.
Semoga sebelum waktu memisahkan, kita telah lebih dahulu berdamai dengan sesama. Sebab ketika kelak kaki melangkah meninggalkan dunia, yang paling kita rindukan bukanlah kemenangan dalam sebuah pertengkaran, melainkan kesempatan untuk memeluk orang-orang tercinta dan berkata:
“Maafkan aku. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang lebih indah.”
