Penyuluh KUA Jatilawang dalam Khotbah Ajak Bertafakur Bahwa Rezeki Bukan Sekadar Banyak, tetapi Juga Penuh Berkah
Banyumas — Manusia sering mengukur kebahagiaan dari apa yang tampak di mata: rumah yang besar, kendaraan yang bagus, tabungan yang banyak, pekerjaan yang mapan, serta penghasilan yang terus bertambah. Padahal, tidak semua yang banyak menghadirkan ketenangan, dan tidak semua yang sedikit berarti kekurangan. Rabu (07/10)
Ada rezeki yang jumlahnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk menghidupi keluarga dan membuat hati tenteram. Ada pula harta yang berlimpah, tetapi justru membuat pemiliknya kehilangan waktu, kesehatan, keluarga, bahkan ketenangan jiwa.
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat melaksanakan Khotbah Jumat di hadapan jamaah Masjid Baiturrohman, dengan mengangkat tema “Rezeki Bukan Sekadar Banyak, tetapi Juga Penuh Berkah.”
Dalam khutbahnya, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk mengubah cara pandang terhadap rezeki. Menurutnya, rezeki tidak semata-mata berbentuk uang dan kekayaan, tetapi mencakup segala karunia Allah SWT yang menghadirkan kebaikan dan kemanfaatan dalam kehidupan.
“Jangan hanya meminta kepada Allah rezeki yang banyak. Mintalah rezeki yang halal, cukup, dan penuh keberkahan. Sebab harta yang banyak belum tentu membuat seseorang bahagia, tetapi harta yang berkah mampu menghadirkan ketenangan,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa keberkahan bukan selalu berarti bertambahnya jumlah, melainkan bertambahnya manfaat. Sedikit tetapi mampu mencukupi kebutuhan keluarga, menjadikan seseorang rajin bersedekah, membuatnya semakin dekat kepada Allah, dan menghadirkan ketenteraman dalam rumah tangga, merupakan bentuk rezeki yang penuh keberkahan.
Sebaliknya, harta yang melimpah tetapi diperoleh dengan cara yang tidak halal dapat menjadi sumber kegelisahan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Karena itu, Muhammad Taubah mengingatkan jamaah agar tidak menghalalkan segala cara demi mengejar penghasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, godaan untuk mendapatkan keuntungan dengan jalan pintas sering kali hadir begitu dekat. Kejujuran terkadang dianggap memperlambat kesuksesan, sementara kecurangan dianggap sebagai kesempatan. Padahal, rezeki yang halal mungkin terasa sederhana, tetapi di situlah letak ketenangan. Lebih baik makan sederhana dari hasil yang halal daripada hidup mewah dari sesuatu yang mengundang murka Allah.
Dalam khutbah tersebut, jamaah juga diajak memahami bahwa rezeki bukan hanya apa yang masuk ke dalam rumah, tetapi juga apa yang membuat penghuni rumah merasa tenteram. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang masih lengkap adalah rezeki. Anak yang berbakti adalah rezeki. Pasangan yang setia adalah rezeki. Orang tua yang masih bisa dipeluk adalah rezeki. Bahkan kesempatan untuk bangun pada pagi hari, menghirup udara, berjalan menuju masjid, dan bersujud di hadapan Allah merupakan rezeki yang sering kali baru disadari nilainya ketika semuanya telah hilang.
Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk memperbanyak syukur atas apa yang telah dimiliki. Sebab manusia sering terlalu sibuk menghitung apa yang belum ada hingga lupa mensyukuri begitu banyak nikmat yang setiap hari hadir tanpa diminta.
“Kadang kita menangisi rezeki yang belum datang, sementara kita lupa mensyukuri rezeki yang setiap hari Allah letakkan di hadapan kita,” pesannya.
Khutbah Jumat tersebut juga menekankan pentingnya bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, memperbanyak doa, bersedekah, serta tidak lupa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sebab rezeki yang berkah bukan hanya dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi jalan hadirnya kebahagiaan bagi orang lain. Ada tangan yang memberi makan kepada tetangga. Ada uang yang digunakan untuk membantu anak yatim. Ada penghasilan yang disisihkan untuk orang tua. Ada sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka yang sedang kesulitan. Mungkin jumlahnya kecil di mata manusia, tetapi bisa menjadi sangat besar nilainya di hadapan Allah SWT.
Di akhir khutbah, Muhammad Taubah mengajak jamaah untuk tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir kehidupan. Harta hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, membahagiakan keluarga, membantu sesama, dan menebar manfaat.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan ditanya hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan. Ketika usia berakhir, rekening tidak ikut masuk ke dalam liang lahat. Rumah tidak ikut menemani kesunyian kubur. Kendaraan tidak ikut mengantarkan perjalanan terakhir. Yang tinggal hanyalah amal. Maka, jangan hanya mengejar rezeki yang banyak. Kejarlah rezeki yang halal, baik, cukup, dan penuh berkah. Sebab rezeki yang paling indah bukanlah yang membuat kita terlihat kaya di hadapan manusia, melainkan yang membuat hati kita merasa cukup di hadapan Allah.
Semoga setiap rupiah yang masuk ke rumah menjadi jalan kebaikan, setiap makanan yang disantap menjadi sumber kekuatan untuk beribadah, setiap pekerjaan menjadi ladang pahala, dan setiap rezeki yang diterima menjadi alasan untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Karena sejatinya, rezeki terbaik bukanlah yang paling banyak jumlahnya, melainkan yang paling banyak menghadirkan keberkahan, ketenteraman, dan manfaat bagi kehidupan.
