Persiapan Hidup Bersama: Nasihat Bijak Penghulu untuk Pengantin
Oleh KUA Lumbir
Banyumas - di tengah kesejukan pagi yang hangat dan suasana desa yang tenang, KUA Lumbir menjadi saksi persiapan sebuah momen sakral bagi dua insan yang akan mengikat janji sehidup semati. Pada hari itu, penghulu KUA Kecamatan Lumbir melaksanakan pemeriksaan berkas pernikahan pasangan calon pengantin, yaitu Imam Miftkahudin, seorang pemuda asal Desa Mergasana, dan Zulfatul, seorang gadis cantik dari Desa Besuki. Jumat (13/02)
Ruangan KUA dipenuhi suasana haru yang lembut, di mana aroma kertas berkas dan secangkir kopi hangat berpadu dengan rasa antisipasi yang menggantung di udara. Imam dan Zulfatul duduk bersebelahan, tangan mereka sesekali bersentuhan, menandakan kedekatan dan ketulusan hati mereka. Dengan ketelitian dan kesungguhan, penghulu meneliti setiap dokumen, memastikan semua administrasi lengkap, sah, dan siap untuk proses pernikahan. Namun, pemeriksaan berkas bukanlah sekadar formalitas; momen ini juga menjadi kesempatan untuk membimbing calon pengantin secara spiritual dan emosional.
Dalam bimbingan perkawinan, penghulu KUA Lumbir, Akrom Anas menyampaikan pesan yang mendalam dan penuh makna. Ia menekankan bahwa pernikahan bukan hanya ikatan sah secara hukum atau ritual, tetapi juga perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengertian, dan kasih sayang tanpa pamrih. “Kalian akan menjadi suami dan istri untuk pertama kali. Ingatlah, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Dalam rumah tangga, kalian akan menghadapi perbedaan, tantangan, dan momen di mana kalian harus belajar memaafkan dan memahami satu sama lain,” ujarnya dengan suara tegas namun hangat.
Penghulu menekankan pentingnya sikap saling memaafkan dan saling memaklumi. Ia menjelaskan bahwa setiap konflik atau kesalahpahaman adalah bagian dari proses belajar bersama. Kunci utama rumah tangga yang harmonis adalah kemampuan untuk saling menghargai, memberi ruang untuk kesalahan, dan menumbuhkan pengertian tanpa henti. “Ingat, rumah tangga yang bahagia dibangun bukan hanya dari cinta, tetapi dari kesabaran, pengorbanan, dan komunikasi yang tulus,” lanjutnya.
Selama sesi bimbingan, suasana ruangan menjadi hangat dan penuh keceriaan. Tawa kecil dan senyum malu-malu muncul ketika penghulu menambahkan kisah-kisah sederhana namun sarat makna tentang pasangan yang berhasil membina rumah tangga dengan penuh pengertian. Ia juga mengingatkan Imam dan Zulfatul untuk selalu menjaga doa, baik secara pribadi maupun bersama, agar rumah tangga mereka selalu diberkahi dan dijauhkan dari konflik yang merugikan.
Di akhir bimbingan, terlihat jelas ketenangan dan keyakinan baru di wajah kedua calon pengantin. Gugup yang semula menghiasi ekspresi mereka kini tergantikan oleh senyum optimis dan tekad yang mantap untuk menapaki jalan baru sebagai suami dan istri. Penghulu menutup sesi tersebut dengan pesan terakhir yang menyentuh hati: “Selamat menempuh hidup baru. Selalu ingat untuk saling memaafkan, menghargai, dan menjaga cinta yang kalian miliki. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan setiap hari adalah kesempatan untuk belajar, memahami, dan mencintai satu sama lain lebih dalam.”
Saat Imam dan Zulfatul meninggalkan ruang KUA, suasana Banyumas pagi itu terasa semakin hangat, seolah seluruh desa ikut mendoakan langkah baru mereka. Momen ini menjadi awal dari perjalanan rumah tangga yang penuh harapan, cinta, dan doa, dengan bimbingan bijaksana dari penghulu KUA Lumbir sebagai cahaya petunjuk pertama bagi pasangan pengantin baru ini.
