Pesantren Ramadan MAN 3 Banyumas
Oleh MAN 3 Banyumas
Banyumas – MAN 3 Banyumas di hari pertama masuk di bulan ramadan menyelenggarakan kegiatan pesantren ramadan yang diikuti oleh seluruh civitas akademika MAN 3 Banyumas. Kegiatan ini dimulai pukul 07.30 sampai dengan 08.00 WIB yaitu tadarus Al-Qur’an yang dilakukan oleh seluruh guru, pegawai dan siswa secara mandiri. Bapak ibu guru dan karyawan berada diruang guru sedangkan siswa berada dikelas masing-masing yang didampingi oleh wali kelas. Setelah itu dilanjutkan dengan pembelajaran seperti biasa. Senin (23/02)
Selama bulan Ramadan, pembelajaran di madrasah tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada penguatan iman, takwa, dan akhlak mulia. Siswa mengikuti shalat dhuha, tadarus Al Quran, kajian kitab, HP dikumpulkan perkelas, siswa membawa alat tulis, shalat duhur dan kultum serta berbagai aktivitas spiritual lainnya. Pesantren Ramadhan bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan pemahaman agama Islam secara intensif selama bulan puasa. Kegiatan ini dirancang untuk mendidik akhlak mulia, disiplin, kemandirian, serta mengisi waktu luang dengan aktivitas positif seperti tadarus, kajian fikih, dan salat berjamaah agar Ramadhan lebih bermakna.
Setelah isitrahat pertama pukul 10.00 WIB kelas X dan XI melaksanakan kegiatan kajian Islam di masjid Al-Ma’sum MAN 3 Banyumas dan kelas XII tetap melanjutkan Pelajaran untuk mempersiapkan ASAT dan UM, kajian yang disampaikan oleh Solikhin, selaku kepala madrasah menyampaikan materi tentang pendalaman masalah shalat (fiqh dan hakikat) sangat penting untuk memastikan ibadah sah secara hukum dan bermakna secara spiritual. Masalah utama dalam shalat sering kali berkisar pada kurangnya khusyuk, kesalahan gerakan, dan pemahaman rukun.
Setelah itu melaksanakan shalat duhur berjama’ah di masjid Al Ma’sum MAN 3 Banyumas dan kultum yang disampaikan oleh Alif Yusuf Syarifuddin siswa kelas X-E MAN 3 Banyumas. tentang mengajar kesucian bulan Ramadan dengan kesadaran lingkungan. Mengejar kesucian diri terdapat tiga macam. Dua berada pada kesucian diri manusia secara lahir dan batin, sedangkan yang terakhir adalah kesucian/kebersihan pada lingkungan. Lingkungan dan diri manusia tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan. Ketika lingkungan sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia dengan berbagai bencana yang terjadi, maka kesucian diri manusia sulit tercapai. (Humas).
