Hidupkan Kesadaran Anugerah Waktu
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di antara sekian banyak nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, waktu adalah karunia yang paling adil sekaligus paling sering terlupakan. Setiap orang menerima jumlah yang sama setiap hari, tetapi tidak semua mampu memanfaatkannya dengan bijaksana. Kesadaran itulah yang dihadirkan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, melalui rekaman siaran di RRI Purwokerto dengan mengangkat tema "Menyukuri Nikmat Waktu." Selasa (30/06)
Rekaman tersebut menjadi bagian dari upaya dakwah yang memanfaatkan media penyiaran untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang menyejukkan. Melalui suara yang mengalun dari balik mikrofon, nilai-nilai keimanan dan kebijaksanaan diharapkan dapat menjangkau masyarakat luas, mengingatkan bahwa di tengah kesibukan dunia, manusia tetap memerlukan ruang untuk merenungi makna kehidupan.
Dalam materinya, Rais Rudiansyah mengajak para pendengar untuk memandang waktu bukan sekadar hitungan jam, hari, atau tahun, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk berbuat baik, memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, menebarkan manfaat, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Pesan tersebut terasa begitu relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Banyak orang sibuk mengejar cita-cita, pekerjaan, dan berbagai target duniawi, namun tanpa disadari waktu berlalu begitu saja. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tahun demi tahun berlalu tanpa sempat menikmati kebersamaan dengan keluarga, berbagi kepada sesama, atau memperbanyak amal kebajikan.
Di ruang rekaman RRI Purwokerto, setiap kalimat yang diucapkan menjadi lebih dari sekadar rangkaian kata. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari keberkahan waktu yang digunakan. Sebab satu hari yang dipenuhi amal saleh jauh lebih bernilai daripada usia panjang yang dihabiskan tanpa makna.
Sebagai Penyuluh Agama Islam, Rais Rudiansyah terus berupaya menghadirkan dakwah yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat makna, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan setiap kesempatan sebagai ladang amal, karena tidak seorang pun mengetahui kapan lembaran waktu yang dimilikinya akan ditutup untuk selamanya.
Radio, sebagai media yang telah menemani berbagai generasi, kembali menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Dari balik studio RRI Purwokerto, suara dakwah mengalir menembus jarak, memasuki rumah-rumah pendengar, menyapa mereka yang sedang bekerja, dalam perjalanan, maupun yang tengah menikmati waktu bersama keluarga.
Tema "Menyukuri Nikmat Waktu" menjadi pengingat bahwa waktu tidak pernah dapat dibeli, dipinjam, ataupun diulang. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Karena itu, rasa syukur yang sesungguhnya bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan mengisi setiap detik kehidupan melalui ibadah, kerja yang jujur, kasih sayang kepada keluarga, kepedulian terhadap sesama, dan pengabdian kepada masyarakat.
Betapa banyak orang yang baru menyadari mahalnya waktu ketika kesempatan telah berlalu. Ada anak yang merindukan pelukan orang tuanya yang telah tiada. Ada sahabat yang ingin meminta maaf, tetapi tak lagi sempat bertemu. Ada pula impian berbuat baik yang terus ditunda hingga akhirnya hanya menjadi penyesalan. Semua itu mengajarkan bahwa waktu adalah nikmat yang paling berharga sekaligus paling rapuh.
Melalui rekaman di RRI Purwokerto ini, Rais Rudiansyah mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan setiap hari sebagai kesempatan baru memperbaiki diri. Selama matahari masih terbit dan napas masih berembus, pintu kebaikan tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin melangkah menuju ridha Allah SWT.
Pada akhirnya, manusia tidak akan diminta menghitung berapa banyak harta yang dikumpulkan atau seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih. Yang akan ditanyakan adalah bagaimana waktu itu digunakan. Sebab waktu adalah titipan yang kelak akan kembali kepada Pemilik-Nya. Maka, sungguh berbahagialah mereka yang mampu mensyukurinya dengan mengisi setiap detik kehidupan dengan iman, amal saleh, dan cinta kasih kepada sesama.
