Nostalgia Perjuangan Dakwah dalam Sambangan Hangat ke Rumah Penyuluh Lama
Oleh KUA Wangon
Banyumas – Suasana penuh kehangatan dan rasa kekeluargaan menyelimuti kunjungan silaturahmi yang dilakukan oleh jajaran Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon. Mengusung agenda "Sambangan", bertandang ke kediaman Ahmad Muttaqin, salah seorang tokoh penyuluh fungsional senior yang telah pindah ke KUA Jatilawang. Kegiatan ini diinisiasi sebagai bentuk penghormatan serta upaya untuk terus menyambung tali persaudaraan antar-generasi yang pernah dan masih berjuang di medan dakwah KUA Wangon. Selasa (30/06)
Pertemuan lintas generasi ini seketika berubah menjadi ajang nostalgia yang penuh haru sekaligus tawa. Duduk bersama di ruang tamu, penyuluh berbagai cerita suka dan duka saat menerobos pelosok desa demi memberikan penyuluhan keagamaan, keterbatasan fasilitas zaman dahulu, hingga pendekatan humanis kepada masyarakat yang sarat keteladanan menjadi menu utama perbincangan hangat siang itu.
Qudrat, salah seorang penyuluh agama KUA Wangon, mengungkapkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar pertemuan formal biasa, melainkan momentum penting untuk mengisi kembali semangat spiritual para penyuluh yang masih aktif. Menurutnya, pengalaman para pendahulu adalah guru terbaik dalam menghadapi tantangan dakwah modern yang semakin kompleks di era digital saat ini.
"Kami datang tidak hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk menimba ilmu dan menyerap energi perjuangan yang luar biasa. Cerita-cerita dari beliau mengingatkan kami bahwa inti dari dakwah adalah keikhlasan dan ketulusan dalam melayani umat, hal yang harus selalu kami rawat di KUA Wangon," ujar Qudrat dengan penuh takzim.
Mendapat kunjungan hangat dari para koleganya yang lebih muda, Ahmad Muttaqin selaku penyuluh senior tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan harunya. Sembari memberikan wejangan, beliau berpesan agar para penerusnya tetap menjaga kekompakan dan tidak pernah lelah memberikan pencerahan kepada masyarakat, sekecil apa pun kontribusi yang bisa diberikan.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian rekan-rekan semua yang tidak melupakan kami. Zaman boleh berubah dan teknologi makin maju, namun saya berpesan agar ruh dakwah, kesabaran, dan pendekatan yang merangkul masyarakat tetap menjadi identitas utama penyuluh KUA Wangon," tutur Muttaqin di akhir pertemuan yang ditutup dengan doa bersama. (jhr)
