Menjadi Muslim yang Membawa Manfaat

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, ketika ukuran keberhasilan sering kali diukur dari apa yang dimiliki, masih ada suara yang mengingatkan bahwa nilai seorang manusia sesungguhnya terletak pada seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada sesama. Pesan penuh makna itulah yang disampaikan Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, saat melaksanakan rekaman siaran di RRI Purwokerto dengan mengangkat tema "Menjadi Muslim yang Membawa Manfaat." Selasa (30/06)

Rekaman tersebut merupakan bagian dari upaya dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui media radio, nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang, kedamaian, dan kepedulian disampaikan kepada masyarakat secara luas, menjadikan gelombang udara sebagai jalan untuk menghadirkan cahaya ilmu dan penguatan spiritual bagi para pendengar.

Dalam materi yang disampaikan, Muhammad Asyhadi mengajak umat Islam untuk menjadikan kebermanfaatan sebagai identitas dalam setiap langkah kehidupan. Menjadi seorang muslim, menurutnya, bukan hanya diwujudkan melalui ibadah yang bersifat personal, tetapi juga melalui kepedulian, kejujuran, sikap saling menolong, serta kemampuan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan bagi orang lain.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang sering kali dipenuhi kesibukan dan persaingan. Di balik aktivitas yang padat, manusia diajak untuk tidak kehilangan rasa empati. Sebab senyuman yang tulus, bantuan yang sederhana, nasihat yang baik, bahkan doa yang dipanjatkan dengan ikhlas, dapat menjadi manfaat besar yang mengubah kehidupan seseorang.

Di ruang rekaman RRI Purwokerto, mikrofon menjadi saksi lahirnya untaian kata yang sarat makna. Setiap kalimat yang diucapkan membawa harapan agar dapat mengalir hingga ke rumah-rumah pendengar, menyapa mereka yang sedang berjuang menghadapi kesulitan, menguatkan yang mulai kehilangan semangat, dan mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Sebagai Penyuluh Agama Islam, Muhammad Asyhadi terus berkomitmen menghadirkan dakwah yang membumi dan menyentuh kehidupan nyata masyarakat. Dakwah tidak hanya mengajarkan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk menjadi pribadi yang ringan tangan membantu, lembut dalam bertutur, bijaksana dalam bersikap, dan tulus dalam melayani.

Keberadaan radio sebagai media penyiaran tetap memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Di tengah derasnya arus informasi digital, suara yang menyejukkan dari balik mikrofon mampu menjadi teman perjalanan, pengingat di tengah kesibukan, dan penuntun bagi hati yang sedang mencari arah kehidupan.

Tema "Menjadi Muslim yang Membawa Manfaat" sejatinya bukan sekadar materi ceramah, melainkan sebuah panggilan untuk membangun peradaban yang dipenuhi kasih sayang. Sebab Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang saleh di hadapan Allah SWT, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang kehadirannya dirindukan karena mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Sering kali manusia merasa hidupnya biasa-biasa saja. Padahal, boleh jadi ada air mata yang terhapus karena uluran tangannya, ada hati yang kembali kuat karena kata-kata penguatnya, atau ada keluarga yang mampu tersenyum kembali karena pertolongannya. Kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia di sisi Allah SWT.

Melalui rekaman di RRI Purwokerto, Muhammad Asyhadi mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan hidup sebagai ladang manfaat. Sebab usia yang panjang tidak akan berarti tanpa jejak kebaikan, dan harta yang melimpah tidak akan bernilai tanpa kebermanfaatan bagi sesama.

Pada akhirnya, manusia akan dikenang bukan karena seberapa tinggi kedudukannya atau sebanyak apa hartanya, melainkan karena jejak kebaikan yang ditinggalkannya. Ketika nama telah perlahan dilupakan oleh zaman, manfaat yang pernah diberikan akan tetap hidup dalam doa-doa orang yang pernah ditolong. Itulah warisan paling indah, yang tak lekang oleh waktu dan menjadi bekal menuju keabadian di hadapan Allah SWT.