Merawat Cinta dengan Saling Menghargai
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di balik kokohnya sebuah rumah tangga yang bahagia, terdapat sikap sederhana yang sering kali menjadi penopang utama keberlangsungan cinta: saling menghargai. Nilai luhur itulah yang disampaikan oleh Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Muhammad Asadullah dan Rini Dwi dalam rangka mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh keberkahan. Jum’at (05/06)
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi bagian penting dari upaya KUA Jatilawang dalam membekali calon pengantin dengan pengetahuan dan keterampilan dasar kehidupan berumah tangga. Tidak hanya mempersiapkan hari akad nikah, tetapi juga mempersiapkan perjalanan panjang setelah akad itu terucap.
Dalam penyampaiannya, Dwi Astuti menjelaskan bahwa saling menghargai merupakan salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan suami istri. Sebab cinta yang tumbuh tanpa penghargaan akan mudah terluka, sementara cinta yang dirawat dengan penghormatan akan semakin kokoh menghadapi berbagai ujian kehidupan.
"Setiap suami dan istri berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka memiliki kebiasaan, cara berpikir, dan pengalaman hidup yang tidak selalu sama. Karena itu, sikap saling menghargai menjadi kunci agar perbedaan tidak berubah menjadi pertengkaran, melainkan menjadi kekuatan yang saling melengkapi," ungkap Dwi Astuti.
Muhammad Asadullah dan Rini Dwi tampak mengikuti materi dengan penuh perhatian. Sesekali keduanya tersenyum ketika diajak memahami bahwa penghargaan dalam rumah tangga tidak selalu diwujudkan dalam hal-hal besar. Kadang-kadang, penghargaan hadir melalui kata-kata yang lembut, ucapan terima kasih yang tulus, kesediaan mendengarkan pasangan, atau sikap menghormati pendapat meskipun berbeda pandangan.
Suasana bimbingan menjadi semakin menyentuh ketika Dwi Astuti mengajak calon pengantin merenungkan perjalanan kehidupan yang akan mereka hadapi bersama. Dalam rumah tangga kelak, akan ada hari-hari yang dipenuhi tawa dan kebahagiaan, tetapi juga akan ada masa-masa sulit yang menguji kesabaran dan keteguhan hati. Pada saat itulah sikap saling menghargai akan menjadi pelita yang menjaga kehangatan hubungan.
Menurutnya, banyak rumah tangga yang retak bukan karena hilangnya cinta, melainkan karena hilangnya rasa hormat satu sama lain. Ketika penghargaan mulai pudar, kata-kata menjadi tajam, komunikasi menjadi dingin, dan kebersamaan kehilangan maknanya. Sebaliknya, ketika suami dan istri mampu saling menghargai, maka kekurangan pasangan tidak akan menjadi alasan untuk saling menyalahkan, melainkan menjadi ruang untuk saling melengkapi.
Di tengah derasnya perubahan zaman dan berbagai tantangan kehidupan modern, Bimbingan Perkawinan yang dilaksanakan KUA Jatilawang menjadi ikhtiar penting dalam membangun keluarga yang tangguh dan berketahanan. Sebuah keluarga yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara emosional dan spiritual.
Hari itu, ruang bimbingan terasa lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menjadi ruang perenungan tentang arti cinta yang sesungguhnya. Bahwa pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang untuk dicintai, tetapi juga tentang belajar menghormati seseorang setiap hari, bahkan ketika keadaan tidak selalu mudah.
Melalui bimbingan tersebut, Dwi Astuti berharap Muhammad Asadullah dan Rini Dwi dapat mengawali kehidupan rumah tangga dengan bekal pemahaman yang baik tentang pentingnya saling menghargai. Sebab rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga yang bebas dari masalah, melainkan rumah tangga yang di dalamnya terdapat dua hati yang saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga dalam setiap keadaan.
Semoga langkah Muhammad Asadullah dan Rini Dwi menuju gerbang pernikahan senantiasa dimudahkan oleh Allah SWT. Semoga mereka kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, tempat bersemainya cinta yang tulus, penghormatan yang mendalam, dan doa-doa yang tak pernah berhenti mengalir sepanjang perjalanan kehidupan.
