Penyuluh KUA Jatilawang Dampingi Pasien dengan Bimbingan Ibadah dan Doa

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Tidak semua dakwah berlangsung di atas mimbar. Ada kalanya dakwah hadir di sebuah ruang perawatan yang sunyi, di antara suara langkah tenaga kesehatan, tetesan infus, dan tatapan mata seorang pasien yang sedang berjuang melawan sakit. Di tempat seperti itulah, kehadiran seorang penyuluh agama menjadi cahaya yang menguatkan hati dan menumbuhkan harapan. Selasa (30/06)

Wujud pelayanan tersebut tampak ketika Muhammad Asyhadi, Abdul Khanan, dan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, melaksanakan kunjungan pembinaan rohani kepada pasien bernama Ibu Faizah, warga Kesugihan, Cilacap, yang sedang menjalani perawatan di Puskesmas Kecamatan Jatilawang.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, ketiga penyuluh agama memberikan bimbingan mengenai tata cara tayamum dan shalat bagi orang yang sedang sakit, sehingga ibadah tetap dapat dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam meskipun dalam kondisi fisik yang terbatas. Pendampingan tersebut dilakukan dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan empati, agar setiap penjelasan mudah dipahami sekaligus menghadirkan ketenangan batin bagi pasien.

Selain memberikan bimbingan ibadah, mereka juga memanjatkan doa bersama untuk kesembuhan Ibu Faizah. Dengan penuh kekhusyukan, lantunan doa mengiringi harapan agar Allah SWT segera mengangkat penyakit yang diderita, melimpahkan kekuatan, kesabaran, serta mengganti setiap rasa sakit dengan limpahan pahala dan ampunan.

Tak hanya itu, motivasi dan penguatan spiritual turut disampaikan agar Ibu Faizah tetap optimistis menjalani proses pengobatan. Para penyuluh mengingatkan bahwa sakit bukan semata-mata ujian, melainkan juga kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam setiap rasa nyeri terdapat hikmah, dan dalam setiap kesabaran tersimpan janji pahala yang begitu besar.

Suasana ruang perawatan yang semula dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi lebih teduh. Senyum yang mulai merekah di wajah pasien menjadi gambaran bahwa perhatian, doa, dan kehadiran seseorang sering kali menjadi obat yang tidak kalah berharga dibandingkan terapi medis. Sebab, ada luka yang hanya dapat disembuhkan dengan sentuhan kasih sayang dan penguatan iman.

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas penyuluh agama untuk menghadirkan layanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menghadapi ujian sakit. Kehadiran penyuluh agama di fasilitas kesehatan menjadi bentuk sinergi antara pelayanan spiritual dan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat memperoleh pendampingan yang utuh, baik secara jasmani maupun rohani.

Bagi Muhammad Asyhadi, Abdul Khanan, dan Taubah, mendampingi orang sakit bukan sekadar menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian yang diajarkan Islam. Sebab, di hadapan seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit, kehadiran yang tulus sering kali lebih bermakna daripada kata-kata yang panjang.

Kisah sederhana di ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang ini mengingatkan bahwa di balik kesibukan kehidupan, masih banyak tangan yang rela menggenggam tangan orang lain yang sedang lemah. Masih ada hati yang memilih datang untuk menguatkan, mengajarkan cara beribadah dalam keterbatasan, dan mengiringi harapan dengan doa-doa yang tulus.

Pada akhirnya, kesehatan memang merupakan nikmat yang tak ternilai. Namun ketika sakit datang sebagai bagian dari takdir Allah SWT, keimanan, kesabaran, dan kepedulian sesama menjadi penopang yang menguatkan langkah. Semoga Ibu Faizah segera dianugerahi kesembuhan, dipulihkan kesehatannya, dan kembali berkumpul dengan keluarga dalam keadaan yang lebih baik. Semoga pula setiap doa yang dipanjatkan, setiap ilmu yang diajarkan, dan setiap senyum yang dibagikan menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya di sisi Allah SWT.