Penyuluh KUA Sokaraja Laksanakan Tugas Khotib dan Imam Salat Jumat di Wilayah Binaan, Ajak Jemaah Mensyukuri Nikmat Air
Sokaraja — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Sokaraja terus berkomitmen meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat melalui dakwah yang menyentuh hati dan memberikan dampak nyata. Komitmen tersebut diwujudkan oleh Akhmad Arifudin, yang melaksanakan tugas sebagai khotib sekaligus imam Salat Jumat di Masjid Baitul Hikmah, Perum Karen Indah 1, wilayah desa binaannya. Jumat (09/10)
Dalam khutbah Jumat yang mengangkat tema “Ketika Air Menjadi Nikmat yang Kita Lupakan”, Akhmad Arifudin mengajak jemaah untuk merenungkan kembali betapa besarnya nikmat air dalam kehidupan manusia. Air yang setiap hari digunakan untuk berwudu, minum, memasak, membersihkan diri, hingga menyokong kehidupan pertanian dan lingkungan, sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa, padahal merupakan karunia Allah SWT yang sangat berharga.
Melalui pesan dakwah tersebut, jemaah diajak menyadari bahwa nikmat yang terus tersedia terkadang justru paling mudah dilupakan. Manusia sering baru merasakan betapa berharganya air ketika sumur mengering, pasokan air terhenti, atau kekeringan mulai mengancam kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya ayat 30 yang artinya “Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.” (QS. Al-Anbiya: 30).
Ayat tersebut menegaskan bahwa air merupakan unsur penting bagi keberlangsungan kehidupan. Oleh karena itu, menjaga ketersediaan dan kebersihan air bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai penerima amanah Allah SWT.
Lebih lanjut, Allah SWT mengingatkan manusia tentang sumber air yang menjadi kebutuhan utama kehidupan melalui firman-Nya dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 68–70, yang mengajak manusia merenungkan air yang diminum dan menyadari bahwa Allah berkuasa menjadikannya tawar ataupun tidak dapat diminum.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa air bersih bukan semata-mata hasil usaha manusia, tetapi juga nikmat yang harus disyukuri, dijaga, dan dimanfaatkan secara bijaksana.
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Syukur perlu dibuktikan melalui perilaku yang mencerminkan kepedulian terhadap nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut mengajarkan pentingnya menghargai nikmat yang telah dimiliki. Dalam konteks air, masyarakat hendaknya tidak menunggu terjadinya krisis untuk mulai menghargainya. Membiasakan diri menggunakan air secukupnya, memperbaiki kebocoran, menjaga sumber mata air, tidak mencemari sungai, serta menanamkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak merupakan bentuk syukur yang dapat dimulai dari rumah masing-masing.
Pesan khutbah ini juga menjadi motivasi agar umat Islam membangun kesadaran bahwa setiap nikmat mengandung tanggung jawab. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kewajiban untuk menggunakannya secara benar dan tidak merugikan orang lain.
Pelaksanaan tugas sebagai khotib dan imam Salat Jumat oleh Akhmad Arifudin merupakan bagian dari peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam membina kehidupan beragama masyarakat di wilayah binaan. Kehadiran penyuluh di tengah jemaah tidak hanya menjadi sarana penyampaian ajaran agama, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kesadaran sosial, kepedulian lingkungan, serta semangat membangun kehidupan yang lebih baik.
Dakwah yang berdampak adalah dakwah yang tidak berhenti ketika khutbah selesai, melainkan tumbuh menjadi kesadaran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tema tentang nikmat air, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa menjaga lingkungan, menghemat air, dan membantu sesama yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih merupakan wujud nyata pengamalan nilai-nilai Islam.
Momentum Salat Jumat di Masjid Baitul Hikmah, Perum Karen Indah 1, menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pesan sederhana yang disampaikan dengan ketulusan, kemudian diwujudkan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Air mengajarkan manusia tentang arti kehidupan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Selama air masih mengalir, jangan biarkan hati berhenti mengingat Sang Pemberi nikmat. Selama air masih tersedia, jangan biarkan tangan kita menyia-nyiakannya. Dan selama masih ada sesama yang kesulitan mendapatkan air bersih, jangan biarkan kepedulian kita mengering.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini memberikan motivasi bahwa syukur merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membangun kehidupan yang penuh keberkahan. Syukur atas nikmat air hendaknya diwujudkan melalui penggunaan yang bijak, pemeliharaan lingkungan, dan kepedulian terhadap kebutuhan sesama.
Jangan menunggu air menjadi langka untuk menyadari nilainya. Jangan menunggu bencana datang untuk mulai menjaga lingkungan. Dan jangan menunggu nikmat hilang untuk belajar bersyukur.
Melalui kegiatan dakwah ini, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja diharapkan terus hadir sebagai penggerak kebaikan di tengah masyarakat, menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan, membangun kesadaran bersama, serta mendorong lahirnya perilaku yang lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan.
Semoga setiap langkah dakwah menjadi amal jariyah, setiap pesan kebaikan menghidupkan hati, dan setiap upaya menjaga nikmat Allah menjadi jalan menuju kehidupan masyarakat yang religius, peduli, dan penuh keberkahan.
