Rajut Kebersamaan dalam Bingkai Pernikahan

Oleh KUA Wangon
SHARE

Banyumas – Dalam upaya membekali para calon pengantin menghadapi bahtera rumah tangga, Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon kembali menggelar kelas bimbingan perkawinan (Bimwin) pra-nikah. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh pasangan calon pengantin yang siap melangkah ke jenjang pernikahan. Program ini dirancang secara khusus untuk memberikan fondasi keagamaan, psikologis, dan manajemen keluarga yang kokoh demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Selasa (30/06)

Selama jalannya kelas bimbingan, para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai hak dan kewajiban suami istri, komunikasi yang sehat, hingga penyelesaian konflik berbasis nilai-nilai Islam. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoretis, melainkan juga aplikatif agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya ruang diskusi saat mereka berkonsultasi mengenai tantangan kehidupan pasca-pernikahan di era modern.

Syarifudin, salah seorang Penyuluh Agama Islam yang bertindak sebagai pemateri utama dalam kelas tersebut, menekankan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan sipil, melainkan sebuah ibadah terpanjang yang didasarkan pada komitmen spiritual bersama. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya menyatukan dua visi yang berbeda ke dalam satu tujuan yang diridai Allah SWT.

"Pernikahan yang kuat tidak dibangun atas dasar kesempurnaan, melainkan atas kesiapan untuk saling menerima, memaafkan, dan bertumbuh bersama. Melalui bimbingan ini, kami ingin para calon pengantin memahami bahwa merajut kebersamaan dalam bingkai Islami berarti menjadikan sabar dan syukur sebagai kemudi utama dalam menghadapi setiap ujian rumah tangga," tutur Syarifudin di hadapan para peserta.

Melalui pembekalan yang komprehensif ini, KUA Wangon berharap angka perselisihan dan perceraian di wilayah setempat dapat terus ditekan. Program bimbingan pra-nikah ini dinilai sangat efektif dalam mengubah pola pikir calon pengantin agar lebih matang secara mental dan spiritual. Dengan demikian, setiap pasangan diharapkan mampu melahirkan generasi yang berkualitas yang dimulai dari lingkungan keluarga yang harmonis dan penuh berkah. (jhr)